Senin, 20 Juni 2011
Stress, Distress, Eustress
Stress adalah sebuah istilah yang diambil dari ilmu metalurgi yaitu besarnya tekanan yang diberikan kepada sebuah logam dan mencapai suatu keadaan dimana logam tersebut menjadi rusak, rentang, dan patah akibat tidak dapat menahan tekanan tersebut. Peristiwa sebelum terjadinya rentang, retak dan patah akibat tekanan itulah yang disebut dengan stress. Jadi stress pada manusia adalah sebuah tekanan yang didapatkan dalam diri seseorang.
Stress adalah tekanan yang menyerang mental. Ini adalah pernyataan yang benar bila stress yang diberikan berlebihan dan bahkan tidak hanya mental yang diserang, mungkin fisikpun akan diserang. Penyakit-penyakit mental antara lain fobia, anxiety akan sesuatu, kecemasan yang berlebihan, selalu menyalahkan dirinya, dll. Penyakit-penyakit fisik antara lain sakit alat pencernaan seperti maag, dan penyakit lainnya yang dapat menyerang jantung, alat pernafasan dan kulit. Maaf saya tidak menyebutkan contohnya secara mendetil karena saya bukan dokter. hihihihi. Penyebab stress antara lain kematian seseorang, kehilangan pekerjaan, masalah ekonomi.
Dari informasi yang didengar mungkin stress adalah sebuah momok yang menakutkan. Padahal momok yang menakutkan hanyalah bagian dari stress. Stress memiliki dua jenis yaitu distress dan eustress. Distress-lah yang menyebabkan penyakit karena mengacu pada stimulus yang berbahaya dan menjadikan manusia lemah. Penyebab distress antara lain kritik yang menjatuhkan. Eustress adalah stress yang menyehatkan karena mendorong manusia untuk melampau batasnya, sehingga manusia dapat mencapai impiannya lebih cepat. O yah, eu berasal dari bahasa Yunani yang berarti sehat.
Jika anda memiliki stress yang memiliki gejala distress dan eustress itu disebut stress mondar-mandir yang disebut dengan MD sindrom. Jika anda ingin tahu lebih jelas konsultasi dengan dokter psikiater. "Dok, apakah aku terjangkit penyakit MD sindrom?", ini serius lohhhhh.......
Ok, sekarang saatnya bangkit dan menjadikan stress sebagai pemicu untuk keberhasilan. Enjoy, peace and love.
Referensi:
"Intisari: Kumpulan Artikel Psikolog 3", Jakarta, PT Gramedia, 2008
Ferriss Timothy,"The 4-Hours Workweek", Jakarta, Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan, 2008
Manajemen stres
Stress management is the amelioration of stress and especially chronic stress often for the purpose of improving everyday functioning. manajemen Stres adalah perbaikan dari stres dan terutama stres kronis sering untuk tujuan meningkatkan fungsi sehari-hari.
Stress produces numerous symptoms which vary according to persons, situations, and severity. Stres menghasilkan berbagai gejala yang bervariasi menurut orang, situasi, dan tingkat keparahan. These can include physical health decline as well as depression . Ini dapat termasuk penurunan kesehatan fisik maupun depresi .
Model manajemen stres
[ edit ] Transactional model [ sunting ] model Transaksional
Richard Lazarus and Susan Folkman suggested in 1984 that stress can be thought of as resulting from an “imbalance between demands and resources” or as occurring when “pressure exceeds one's perceived ability to cope”. Richard Lazarus dan Susan Folkman pada tahun 1984 menyarankan bahwa stres dapat dianggap sebagai akibat dari "ketidakseimbangan antara tuntutan dan sumber daya" atau sebagai terjadi ketika "tekanan melebihi yang dianggap kemampuan seseorang untuk mengatasi". Stress management was developed and premised on the idea that stress is not a direct response to a stressor but rather one's resources and ability to cope mediate the stress response and are amenable to change, thus allowing stress to be controllable. [ 3 ] Manajemen stres dikembangkan dan didasarkan pada gagasan bahwa stres bukan merupakan respon langsung terhadap stressor melainkan seseorang sumber daya dan kemampuan untuk mengatasi memediasi respon stres dan menerima perubahan, sehingga memungkinkan stres dapat dikendalikan. [3]
In order to develop an effective stress management programme it is first necessary to identify the factors that are central to a person controlling his/her stress, and to identify the intervention methods which effectively target these factors. Dalam rangka mengembangkan program manajemen stres yang efektif itu pertama-tama perlu untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang penting bagi seseorang mengendalikan / nya stres, dan untuk mengidentifikasi metode-metode intervensi yang efektif menargetkan faktor-faktor ini. Lazarus and Folkman's interpretation of stress focuses on the transaction between people and their external environment (known as the Transactional Model). interpretasi Lazarus dan Folkman's stres berfokus pada transaksi antara masyarakat dan lingkungan eksternal mereka (dikenal sebagai Model Transaksional). The model conceptualizes stress as a result of how a stressor is appraised and how a person appraises his/her resources to cope with the stressor. Model conceptualizes stres sebagai hasil dari bagaimana stressor akan dinilai dan bagaimana seseorang Penilai / nya sumber daya untuk mengatasi stressor. The model breaks the stressor-stress link by proposing that if stressors are perceived as positive or challenging rather than a threat, and if the stressed person is confident that he/she possesses adequate rather than deficient coping strategies, stress may not necessarily follow the presence of a potential stressor. Model istirahat link stressor-stres dengan mengusulkan bahwa jika stres dianggap sebagai positif atau menantang daripada ancaman, dan jika orang menekankan yakin bahwa dia memiliki cukup daripada strategi penanggulangan kekurangan, stres belum tentu mengikuti kehadiran dari stressor potensial. The model proposes that stress can be reduced by helping stressed people change their perceptions of stressors, providing them with strategies to help them cope and improving their confidence in their ability to do so. Model ini mengusulkan bahwa stres dapat dikurangi dengan membantu orang stres mengubah persepsi mereka stres, memberikan mereka dengan strategi untuk membantu mereka mengatasi dan meningkatkan kepercayaan mereka dalam kemampuan mereka untuk melakukannya.
[ edit ] Health realization/innate health model [ sunting ] Kesehatan realisasi / model kesehatan bawaan
The health realization/innate health model of stress is also founded on the idea that stress does not necessarily follow the presence of a potential stressor. Realisasi kesehatan / kesehatan model bawaan stres juga didirikan pada gagasan bahwa stres tidak selalu mengikuti adanya stressor potensial. Instead of focusing on the individual's appraisal of so-called stressors in relation to his or her own coping skills (as the transactional model does), the health realization model focuses on the nature of thought, stating that it is ultimately a person's thought processes that determine the response to potentially stressful external circumstances. Alih-alih berfokus pada penilaian individu terhadap stres yang disebut dalam kaitannya dengan nya sendiri mengatasi keterampilan (sebagai model transaksional tidak), model realisasi kesehatan berfokus pada sifat pemikiran, yang menyatakan bahwa pada akhirnya proses berpikir seseorang yang menentukan respon terhadap keadaan eksternal yang berpotensi stres. In this model, stress results from appraising oneself and one's circumstances through a mental filter of insecurity and negativity, whereas a feeling of well-being results from approaching the world with a "quiet mind," "inner wisdom," and "common sense". [ 4 ] [ 5 ] Dalam model ini, stres hasil dari penilaian diri sendiri dan Teman-keadaan satu melalui filter mental ketidakamanan dan negatif, sedangkan perasaan kesejahteraan hasil dari mendekati dunia dengan "pikiran yang tenang," "kearifan batin," dan "akal sehat" . [4] [5]
This model proposes that helping stressed individuals understand the nature of thought—especially providing them with the ability to recognize when they are in the grip of insecure thinking, disengage from it, and access natural positive feelings—will reduce their stress. Model ini mengusulkan bahwa individu menekankan membantu memahami sifat pemikiran-terutama menyediakan mereka dengan kemampuan untuk mengenali kapan mereka berada dalam cengkeraman pemikiran tidak aman, melepaskan diri dari itu, dan akses perasaan positif alami akan mengurangi stress mereka.
Techniques of stress management Teknik manajemen stres
Ada beberapa cara untuk mengatasi stres. Beberapa teknik manajemen waktu dapat membantu orang untuk mengendalikan stres. Dalam menghadapi tuntutan tinggi, manajemen stres yang efektif mencakup belajar untuk menetapkan batas dan menolak beberapa tuntutan yang lain buat. Teknik-teknik berikut telah baru-baru ini dijuluki "Destressitizers" oleh The Journal of Canadian Medical Association. A destressitizer is any process by which an individual can relieve stress. destressitizer adalah setiap proses dimana seorang individu dapat meredakan stres. Teknik manajemen stres akan bervariasi sesuai dengan teoritis paradigma diikuti, namun dapat mencakup beberapa hal sebagai berikut [6] :
• Autogenic training = Otogenik pelatihan
• Cognitive therapy = Terapi kognitif
• Conflict resolution = Resolusi konflik
• Exercise = Latihan
• Getting a hobby = Mendapatkan hobi
• Meditation = Meditasi
• Deep breathing = Deep bernapas
• Yoga Nidra = Yoga Nidra
• Nootropics Nootropics
• Relaxation techniques Teknik relaksasi
• Artistic Expression Ekspresi Artistik
• Fractional relaxation Fractional relaksasi
• Progressive relaxation Progresif relaksasi
• Spas Spa
• Somatics training [ 7 ] Somatics pelatihan [7]
• Spending time in nature Menghabiskan waktu di alam
• Stress balls Stres bola
• Natural medicine Obat Alami
• Clinically validated alternative treatments [ 8 ] pengobatan alternatif divalidasi klinis [8]
• Time management Manajemen waktu
• Listening to certain types of relaxing music, [ 9 ] particularly: Mendengarkan jenis musik tertentu santai, [9] terutama:
o New Age music New Age musik
o Classical music Musik klasik
o Psychedelic music Psychedelic musik
o Sleep Music [ 10 ] Musik Tidur [10]
Measuring stress Mengukur stres
Levels of stress can be measured. Tingkat stres dapat diukur. One way is through the use of the Holmes and Rahe Stress Scale to rate stressful life events. Salah satu cara adalah melalui penggunaan Rahe Stres Skala Holmes dan hidup tingkat peristiwa stres. Changes in blood pressure and galvanic skin response can also be measured to test stress levels, and changes in stress levels. Perubahan tekanan darah dan respon kulit galvanik juga dapat diukur untuk menguji tingkat stres, dan perubahan tingkat stres. A digital thermometer can be used to evaluate changes in skin temperature, which can indicate activation of the fight-or-flight response drawing blood away from the extremities. Sebuah termometer digital dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan temperatur kulit, yang dapat menunjukkan aktivasi dari -atau-penerbangan respons melawan menarik darah dari ekstremitas.
Stress management has physiological and immune benefit effects. [ 11 ] Manajemen stres memiliki kekebalan manfaat dan efek fisiologis. [11]
Effectiveness of stress management Efektivitas manajemen stres
Positive outcomes are observed using a combination of non-drug interventions: [ 12 ] hasil positif yang diamati menggunakan kombinasi dari intervensi non-obat: [12]
• treatment of anger or hostility , pengobatan kemarahan atau permusuhan ,
• autogenic training otogenik pelatihan
• talking therapy (around relationship or existential issues) berbicara terapi (sekitar isu-isu hubungan atau eksistensial)
• biofeedback biofeedback
• cognitive therapy for anxiety or clinical depression kognitif terapi untuk kecemasan atau depresi klinis
Jenis Stres
So, what are the major types of stress? Jadi, apa jenis utama dari stres? While there are many subcategories of stress that are being treated today, the major types of stress can be broken down into four different categories: Eustress, Hyperstress, Hypostress, and Distress. Meskipun ada banyak subkategori stres yang sedang dirawat saat ini, jenis utama stres dapat dibagi ke dalam empat kategori yang berbeda: Eustress, Hyperstress, Hypostress, dan Distress.
1.Eustress Eustress
Eustress is one of the helpful types of stress. Eustress adalah salah satu jenis membantu stres. What is the definition for eustress? Apa definisi untuk eustress? It is the type of stress you experience right before you have the need to exert physical force. Ini adalah jenis stres yang Anda alami sebelum anda memiliki kebutuhan untuk mengerahkan kekuatan fisik. Eustress prepares the muscles, heart, and mind for the strength needed for whatever is about to occur. Eustress menyiapkan otot, jantung, dan pikiran untuk kekuatan yang dibutuhkan untuk apa pun yang akan terjadi.
Eustress can also apply to creative endeavors. Eustress juga dapat berlaku untuk upaya-upaya kreatif. When a person needs to have some extra energy or creativity, eustress kicks in to bring them the inspiration they need. Ketika seseorang perlu memiliki beberapa energi ekstra atau kreativitas, eustress tendangan untuk membawa mereka inspirasi yang mereka butuhkan. An athlete will experience the strength that comes form eustress right before they play a big game or enter a big competition. Seorang atlet akan mengalami kekuatan yang muncul tepat bentuk eustress sebelum mereka memainkan pertandingan besar atau masukkan kompetisi besar. Because of the eustress, they immediately receive the strength that they need to perform. Karena eustress, mereka segera menerima kekuatan yang mereka butuhkan untuk melakukan.
When the body enters the fight or flight response, it will experience eustress. Ketika tubuh memasuki respon melawan atau lari, itu akan mengalami eustress. The eustress prepares the body to fight with or flee from an imposing danger. eustress ini mempersiapkan tubuh untuk melawan dengan atau melarikan diri dari bahaya mengesankan. This type of stress will cause the blood to pump to the major muscle groups, and will increase the heart rate and blood pressure to increase. Stres jenis ini akan menyebabkan darah untuk memompa ke kelompok otot besar, dan akan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah meningkat. If the event or danger passes, the body will eventually return to its normal state. Jika melewati acara atau bahaya, tubuh akhirnya akan kembali ke keadaan normal.
2.Distress Kesulitan
Distress is one of the negative types of stress. Distress adalah salah satu jenis negatif dari stres. This is one of the types of stress that the mind and body undergoes when the normal routine is constantly adjusted and altered. Ini adalah salah satu jenis menekankan bahwa pikiran dan tubuh mengalami ketika rutin terus disesuaikan dan diubah. The mind is not comfortable with this routine, and craves the familiarity of a common routine. Pikiran tidak nyaman dengan rutinitas ini, dan sangat membutuhkan keakraban dari rutinitas umum. There are actually two types of distress: acute stress and chronic stress. Sebenarnya ada dua jenis penderitaan: stres akut dan stres kronis.
3.Acute Stress Stres akut
Acute stress is the type of stress that comes immediately with a change of routine. stres akut adalah jenis stres yang datang segera dengan perubahan rutinitas. It is an intense type of stress, but it passes quickly. Ini adalah jenis intens stres, tapi dengan cepat berlalu. Acute stress is the body's way of getting a person to stand up and take inventory of what is going on, to make sure that everything is OK stres akut adalah cara tubuh mendapatkan seseorang untuk berdiri dan mencatat apa yang terjadi, untuk memastikan bahwa semuanya OK
4.Chronic Stress Stres kronis
Chronic stress will occur if there is a constant change of routine for week after week. stress kronis akan terjadi jika ada perubahan konstan rutin selama seminggu setelah minggu. Chronic stress affects the body for a long period of time. stress kronis mempengaruhi tubuh untuk jangka waktu yang panjang. This is the type of stress experienced by someone who constantly faces moves or job changes. Ini adalah jenis stres yang dialami oleh seseorang yang terus-menerus menghadapi bergerak atau perubahan pekerjaan.
Pencegahan stres
Mencegah stres dengan vitamin dan herbal.
Jika generasi diidentifikasi dengan penyakit umum mereka, ini bisa juga menjadi Stres Generasi. Sebagian besar dari kita mendapatkan overdosis stres setidaknya sekali-sekali. Pekerjaan, anak-anak, komitmen, tenggat waktu semua menambahkan hingga perasaan intens yang kewalahan. Sayangnya, stres mengambil tol parah pada kesehatan kita, berkontribusi terhadap segala sesuatu dari asma stroke.
Kita harus belajar bagaimana untuk mengelola stres kita dan membuat perubahan gaya hidup untuk tetap di bawah kontrol, tapi bahkan manajer terbaik akan memiliki saat-saat hal-hal yang tidak terduga tumpukan pada stres terlalu banyak. Alam memberikan kita dengan beberapa perlindungan stres dan lega. Terima kasih, Alam Ibu!
vitamin tertentu telah diidentifikasi sebagai alat bantu dalam mengurangi dan mengurangi stres. Di bagian atas daftar adalah berbagai macam vitamin B. Hormon seperti pakan serotonin pada vitamin B dan tanpa seri B kompleks, tubuh kita tidak akan menghasilkan serotonin cukup. Serotonin adalah hormon yang paling bertanggung jawab untuk menenangkan saraf kita dan membuat kami merasa optimis. Ada delapan vitamin B dan kebanyakan dari kita tidak mendapatkan cukup dari semua itu. Jika Anda ingin menambahkan suplemen vitamin untuk diet Anda, yang baik B-kompleks akan menjadi salah satu untuk menambah.
Vitamin C has been identified by Nobel Prize winning chemist Linus Pauling as perhaps one of the greatest health aids ever. Vitamin C telah diidentifikasi oleh pemenang Hadiah Nobel kimia Linus Pauling sebagai mungkin salah satu bantuan kesehatan terbesar yang pernah. Vitamin C keeps your body's production of adrenaline and cortisol under control. Vitamin C membuat tubuh Anda produksi adrenalin dan kortisol di bawah kontrol. While these hormones are necessary, when we are under stress, our bodies start to act like they will need to fight for survival. Sementara hormon ini diperlukan, ketika kita sedang stres, tubuh kita mulai bertindak seperti mereka harus berjuang untuk bertahan hidup. Our bloodstreams are flooded with adrenaline and cortisol to help us physically fight for our lives. aliran darah kami dibanjiri dengan adrenalin dan kortisol untuk membantu kami secara fisik berjuang untuk hidup kita. When we don't have a physical outlet to work those extra hormones out of our systems, they linger keeping us tense, irritable and on edge. Ketika kita tidak memiliki outlet fisik untuk bekerja ekstra hormon tersebut keluar dari sistem kami, mereka berlama-lama membuat kami tegang, mudah tersinggung dan gelisah.
We've all heard the 'fat is bad for you' statement in one form or another but it's not entirely true. Kita semua telah mendengar 'gemuk buruk untuk Anda' pernyataan dalam satu bentuk atau lain, tetapi itu tidak sepenuhnya benar. There are good fats. Ada lemak baik. We need at least some fat in our diets and we must have essential fatty acids or we experience increased irritability and depression. Kita memerlukan setidaknya beberapa lemak dalam makanan kita dan kita harus memiliki asam lemak esensial atau kita mengalami peningkatan lekas marah dan depresi. Good sources of essential fatty acids are flaxseed and fish oil. Sumber yang baik dari asam lemak esensial biji rami dan minyak ikan. Add them to your salad dressings and you'll never taste them. Tambahkan mereka untuk dressing salad Anda dan Anda tidak akan pernah merasakannya.
Many herbs will also help calm us down even if they might not prevent stress. Banyak jamu juga akan membantu menenangkan kami turun bahkan jika mereka tidak mungkin mencegah stres. None of these herbs should be used as medicine without first consulting a health care professional. Tidak ada ramuan ini harus digunakan sebagai obat tanpa konsultasi terlebih dahulu seorang profesional perawatan kesehatan. Very young children or the elderly should not use these herbs unless told to do so by a physician. Sangat anak-anak atau orang tua seharusnya tidak menggunakan ramuan tersebut kecuali diberitahu untuk melakukannya oleh dokter.
These herbs are considered natural sedatives and all precautions that you would observe using a prescribed sedative should be observed with these herbs. Tumbuhan ini dianggap obat penenang alami dan semua tindakan pencegahan yang akan Anda amati menggunakan obat penenang ditentukan harus diamati dengan tumbuh-tumbuhan ini. These precautions include not operating equipment, use only at bedtime, do not exceed recommended dosages, consult a doctor if you have any problems connected with these herbs. Tindakan pencegahan ini tidak beroperasi termasuk peralatan, gunakan hanya pada waktu tidur, jangan melebihi dosis yang dianjurkan, berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki masalah berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan ini. Do not combine the use of these herbs with prescribed medications that are sedating without consent of your doctor. Jangan menggabungkan penggunaan ramuan ini dengan obat yang diresepkan yang menenangkan tanpa persetujuan dari dokter Anda.
Balm Oil is used extensively in Germany as a natural sedative. Minyak balsem digunakan secara luas di Jerman sebagai obat penenang alami. It is gentle and considered non-addicting. Hal ini lembut dan dianggap non-addicting. Add tincture of balm oil to a caffeine free tea before bed. Tambahkan tingtur minyak balsem ke teh bebas kafein sebelum tidur. Or, steep two teaspoons of the dried herb as a tea. Atau, curam dua sendok teh herbal kering sebagai teh.
Valerian Root has long been used as a natural sleep aid. Valerian Root telah lama digunakan sebagai alat bantu tidur alami. Steep two teaspoons of powdered root in hot water to make a bedtime tea. Curam dua sendok teh bubuk akar dalam air panas untuk membuat teh tidur.
Passionflower, Ginseng and Chamomile are all effective natural sedatives, too. Passionflower, Ginseng dan Chamomile semua obat penenang alami yang efektif, juga. Each can be made into a bedtime tea just as for Valerian Root. Masing-masing dapat dibuat menjadi teh tidur sama untuk Valerian Root.
St. John's Wort has long been known to help ease depression. St John's wort telah lama dikenal untuk membantu meringankan depresi. This is the most prescribed antidepressant in Germany. Ini adalah antidepresi paling diresepkan di Jerman. Hypericum is the responsible agent and it acts to prevent the re-uptake of serotonin by the brain's neurotransmitters. Hypericum adalah agen yang bertanggung jawab dan bertindak untuk mencegah pengambilan kembali serotonin oleh neurotransmiter otak. The problem with St. John's Wort and many other herbals in the United States is that their manufacturing is not controlled like pharmaceuticals are. Masalah dengan St John's Wort dan herbal lainnya di Amerika Serikat adalah bahwa manufaktur mereka tidak terkontrol seperti obat-obatan tersebut. Any single dose of St. John's Wort or other natural herb preparations can contain anywhere from no active agent to 300% more of the active agent listed on the bottle. Setiap dosis tunggal St John's Wort atau preparat lain ramuan alami dapat mengandung mana saja dari agen tidak aktif hingga 300% lebih dari agen aktif yang tercantum pada botol.
Using vitamins and herbs to manage stress and depression can be very helpful for many. Menggunakan vitamin dan herbal untuk mengelola stres dan depresi bisa sangat membantu bagi banyak orang. But, it's important to remember that these agents are just like medications in many respects. Namun, penting untuk diingat bahwa agen ini hanya seperti obat dalam banyak hal. If you are taking them for a medicinal purpose, please discuss their use with your health care professional first. Jika Anda mengambil mereka untuk tujuan obat, silahkan mendiskusikan penggunaannya dengan perawatan kesehatan Anda profesional pertama. The whole idea is to improve our health, not to endanger it. Seluruh ide adalah untuk meningkatkan kesehatan kita, tidak membahayakan itu.
Stres Fisiologis Respon: Efek Terhadap Tubuh
Dalam dunia sekarang semakin banyak orang mengalami stres. Efek fisiologis dari stres terjadi sebagai akibat dari penyesuaian praktis tertentu yang terjadi dalam tubuh yang dimaksudkan bagi tubuh untuk menangani stres kuat. This article includes: Artikel ini mencakup:
• Apakah efek fisiologis dari stres?
• Bagaimana respon melawan atau lari terjadi?
• Apa respons stres fisiologis?
• Dapat meningkatkan tekanan darah diperlakukan sebagai efek biologis stres?
Dalam dunia era modern, ada lomba lagi, harapan lebih banyak dan lebih bahaya dan alami, semua mengarah ke stres. Stres dapat didefinisikan sebagai respon fisiologis normal tubuh untuk setiap situasi bermusuhan atau stimulus. Efek fisiologis dari stres terjadi sebagai akibat dari penyesuaian fungsional tertentu yang terjadi dalam tubuh yang dimaksudkan bagi tubuh untuk menangani stres efisien. Jika ini merespon pengaruh stres fisiologis tidak ada, maka orang akan jatuh ke dalam permusuhan lingkungan. Stress dapat menyerang siapa saja dan itu mempengaruhi semua orang di beberapa bagian dari kehidupan mereka.
Physiological Effects of Stress Efek Fisiologis Stres
The physiological effects of stress are measures taken by the body to tackle the stressful condition. Efek fisiologis dari stres adalah tindakan yang diambil oleh tubuh untuk mengatasi kondisi stress.
Milieu Interior Lingkungan Interior
Living things especially humans are wonderful creations of god. Makhluk hidup terutama manusia adalah ciptaan Tuhan yang indah. Human body is a complex organization of various systems which function hand in hand. Tubuh manusia adalah sebuah organisasi yang kompleks dari berbagai sistem yang berfungsi bergandengan tangan. All the functions are done only if the interior environment of the body is optimal. Semua fungsi yang dilakukan hanya jika lingkungan interior tubuh optimal. The internal environment includes the chemical substances and the pH, both inside and outside the cells. Lingkungan internal mencakup zat kimia dan pH, baik di dalam dan di luar sel. The optimal range is very narrow (Table1) and the body strive very hard to keep everything within these narrow physiological stress limits. Kisaran optimal adalah sangat sempit (Table1) dan tubuh berusaha sangat keras untuk menjaga segalanya dalam batas-batas ini sempit stres fisiologis. This is called 'Milieu Interior or Internal Homeostasis'. Hal ini disebut 'lingkungan Interior atau Internal Homeostasis'.
Analysis Analisis Reference Range Rentang Referensi
1. 1. pH pH 7.36 - 7.45 7,36-7,45
2. 2. Bicarbonate Bikarbonat 21 - 27.5 m mol / l 21-27,5 m mol / l
3. 3. Oxygen saturation Saturasi Oksigen Normally > 97% Biasanya> 97%
4. 4. Glucose Glukosa 3.6 - 6.8 m mol / l 3,6-6,8 m mol / l
If the internal homeostasis is disturbed, then certain compensatory adjustments take place. Jika homeostasis internal terganggu, maka penyesuaian kompensasi tertentu terjadi. The disturbing factor could be an infectious disease, a non infectious disease or simply any stress. Faktor mengganggu bisa menjadi penyakit menular, penyakit menular yang tidak atau hanya stres apapun. If the disturbing factor is stress, then the body secretes certain stress hormones to tackle the situation with a response called the Fight or the flight response. Jika faktor mengganggu adalah stres, maka tubuh mengeluarkan hormon stres tertentu untuk mengatasi situasi ini dengan respon yang disebut respon Fight atau penerbangan.
Fight or flight response Fight atau respon penerbangan
When the body is exposed to a stressful condition, the hypothalamus situated in the brain (hypothalamus is concerned with the secretion and control of the different hormones of the body) secrete adrenocorticotrophic releasing hormone (ARH). Ketika tubuh terkena kondisi stres, hipotalamus terletak di otak (hipotalamus berkaitan dengan sekresi dan pengendalian hormon tubuh yang berbeda) melepaskan hormon mensekresi adrenocorticotrophic (ARH). This hormone stimulates the pituitary gland which is situated below the hypothalamus to secrete Adrenocorticotrophic hormone(ACTH).This hormone in turn stimulates the adrenal or the suprarenal glands situated on the top of the kidney to secrete the stress hormones namely the adrenaline and the cortisol. Hormon ini merangsang kelenjar pituitari yang terletak di bawah hipotalamus mensekresikan hormon Adrenocorticotrophic (ACTH). hormon ini pada gilirannya merangsang adrenal atau kelenjar suprarenal terletak di atas ginjal untuk mengeluarkan hormon stres yaitu adrenalin dan kortisol tersebut. These two hormones are responsible for the physiological effects of stress through the' fight or flight response' by making certain functional adjustments (Table2). Kedua hormon ini bertanggung jawab atas efek fisiologis dari stres melalui 'the' melawan penerbangan atau respon dengan membuat penyesuaian fungsional tertentu
stres
Bab I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk holistik yang mempnyai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda antara satu sama lain. dalam pemenuhan kebutuhannya manusia memiliki berbagai cara. Pastinya dalam berbagai cara tersebut, terdapat kesuksesan dan juga kegagalan. Ketika kegagalan tersebut dialami oleh manusia, maka banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, dan salah satu dari kemungkinan tersebut adalah stres.
Stres ditimbulkan oleh beberapa sumber yang dapat disebut pula stressor. Kemudian pembahasan yang lebih jelas tentang stres ini, akan kami paparkan dalam bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Apa pengertian stres dan stressor?
Ada berapa macamkah sumber stres itu?
Ada berapakah jenis-jenis stres?
C. Tujuan Pembahasan
Di dalam penulisan makalah ini, kami ingin memberikan suatu pengetahuan tentang stres dan juga stressor bagi para pembaca. Selain itu, kami juga menginginkan para pembaca dapat mengetahui berbgai jenis stres dan sumber stres itu sendiri.
Bab II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Stres dan Stressor
Ada banyak ahli yang berpendapat tetang stres ini. Diantaranya adalah:
Hans Selye: Stres adalah respon manusia yang bersifat non spesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya.
Dadang Hawari 2001: Stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan).
Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Gran Brecht (2000): Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan yang dipengaruhi oleh lingkungan internal ataupun eksternal.
Dengan beberapa pernyataan yang keluar dari pemikiran para ahli diatas, dapat kita tarik satu garis besar bahwa stres secara umum dapat diartikan suatu reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll.
Sedangkan stressor adalah variable yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab timbulnya stres itu sendiri.
B. Sumber Stres
Stres tidak semata-mata timbul dengan tanpa adanya suatu sebab (sumber stres). sumber stres itu dibagi menjadi dua macam, yaitu stressor internal dan stressor eksternal.
Internal stressor: adalah faktor penimbul stres, yang timbul dari diri sendiri. Stressor internal ini dapat timbul dari tuntutan pekerjaan atau beban yang terlalu berat, kondisi keuangan, ketidak puasan terhadap fisik/tubuh, penyakit yang dialami, masa pubertas, karakteristik atau sifat yang dimiliki, dsb.
Contoh: seseorang terlalu memikirkan wajahnya yang kini (pada masa puber) penuh dengan jerawat, padahal dulunya tidak. Sehingga pada akhirnya akan menimbulkan stres.
Eksternal stres: adalah faktor penimbul stres, yang bersumber dari keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Stressor (sumber stres) yang bersasal dari keluarga biasanya disebabkan karena adanya perselisihan dalam keluarga, perpisahan orang tua, adanya anggota keluarga yang mengalami kelainan, dsb. Sumberstres yang berasal dari masyarakat dan lingkungan dapat berasal dari lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, atau lingkungan fisik.
Contoh: adanya atasan yang tidak pernah puas di tempat kerja, atau iri terhadap teman yang status sosialnya lebih tinggi, bisa juga karena adanya polusi udara dan sampah di lingkungan tempat tinggal, dll.
C. Jenis – Jenis Stres
Ditinjau dari penyebabnya, stres dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis berikut.
a. Stres fisik: merupakan stres yang disesbabkan oleh keadaan fisik, seperti suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara bising, sinar matahari yang terlalu menyengat, dll.
b. Stres kimiawi:merupakan stres yang disebabkan oleh pengaruh senyawa kimia yang terdapat pada obat-obatan, zat beracun asam, basa, faktor hormon atau gas, dll.
c. Stres mikirobiologis: merupakan stres yang diakibatkan oleh kuman, seperti firus, bakteri atau parasit.
d. Stres fisiologis: merupakan stres yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ tubuh. Antara lain, gangguan struktur tubuh, fungsi jaringan, organ, dll.
e. Stres proses tumbuh kembang: merupakan stres yang disebabkan oleh proses tumbuh kembang seperti pada masa pubertas, pernikahan, dan pertambahan usia.
f. Stres psikologis atau emosional: merupakan stres yang disebabkan oleh gangguan situasi psikologis atau ketidakmampuan kondisi psikologis untuk menyesuaikan diri, misalnya dalam hubungan interpersonal, sosbud atau keagamaan.
Bab III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Stres adalah suatu reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll. Stres juga mempunyai beberapa macam dan juga memiliki sumber yang dapat kita sebut stressor, yang mana stressor itu sendiri terbagi menjadi dua kelompok besar; internal stressor dan eksternal stressor.
Jadi, dengan demikian kita haruslah pintar dalam menghadapi berbagai masalah atau kemelut yang timbul dalam kehidupan kita sehari-hari agar stres itu tidak menimpa pada diri kita masing-masing.
B. Saran
o Segeralah melakukan penanggulangan terhadap stres. Karena stres adalah merupakan awal dari terciptanya berbagai penyakit.
o Jangan pernah menganggap terlalu berat terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena hal itu dapat menimbulkan terjadinya stres.
o Segeralah bercerita terhadap orang-orang yang kita percayai (share) apabila kita sudah merasa tidak kuat menahannya sendiri. Karena hal itu akan mengurangi beban yang ada dalam diri.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz H. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika
Alimul, Aziz H. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk holistik yang mempnyai karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda antara satu sama lain. dalam pemenuhan kebutuhannya manusia memiliki berbagai cara. Pastinya dalam berbagai cara tersebut, terdapat kesuksesan dan juga kegagalan. Ketika kegagalan tersebut dialami oleh manusia, maka banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, dan salah satu dari kemungkinan tersebut adalah stres.
Stres ditimbulkan oleh beberapa sumber yang dapat disebut pula stressor. Kemudian pembahasan yang lebih jelas tentang stres ini, akan kami paparkan dalam bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Apa pengertian stres dan stressor?
Ada berapa macamkah sumber stres itu?
Ada berapakah jenis-jenis stres?
C. Tujuan Pembahasan
Di dalam penulisan makalah ini, kami ingin memberikan suatu pengetahuan tentang stres dan juga stressor bagi para pembaca. Selain itu, kami juga menginginkan para pembaca dapat mengetahui berbgai jenis stres dan sumber stres itu sendiri.
Bab II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Stres dan Stressor
Ada banyak ahli yang berpendapat tetang stres ini. Diantaranya adalah:
Hans Selye: Stres adalah respon manusia yang bersifat non spesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya.
Dadang Hawari 2001: Stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan).
Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Gran Brecht (2000): Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan yang dipengaruhi oleh lingkungan internal ataupun eksternal.
Dengan beberapa pernyataan yang keluar dari pemikiran para ahli diatas, dapat kita tarik satu garis besar bahwa stres secara umum dapat diartikan suatu reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll.
Sedangkan stressor adalah variable yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab timbulnya stres itu sendiri.
B. Sumber Stres
Stres tidak semata-mata timbul dengan tanpa adanya suatu sebab (sumber stres). sumber stres itu dibagi menjadi dua macam, yaitu stressor internal dan stressor eksternal.
Internal stressor: adalah faktor penimbul stres, yang timbul dari diri sendiri. Stressor internal ini dapat timbul dari tuntutan pekerjaan atau beban yang terlalu berat, kondisi keuangan, ketidak puasan terhadap fisik/tubuh, penyakit yang dialami, masa pubertas, karakteristik atau sifat yang dimiliki, dsb.
Contoh: seseorang terlalu memikirkan wajahnya yang kini (pada masa puber) penuh dengan jerawat, padahal dulunya tidak. Sehingga pada akhirnya akan menimbulkan stres.
Eksternal stres: adalah faktor penimbul stres, yang bersumber dari keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Stressor (sumber stres) yang bersasal dari keluarga biasanya disebabkan karena adanya perselisihan dalam keluarga, perpisahan orang tua, adanya anggota keluarga yang mengalami kelainan, dsb. Sumberstres yang berasal dari masyarakat dan lingkungan dapat berasal dari lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, atau lingkungan fisik.
Contoh: adanya atasan yang tidak pernah puas di tempat kerja, atau iri terhadap teman yang status sosialnya lebih tinggi, bisa juga karena adanya polusi udara dan sampah di lingkungan tempat tinggal, dll.
C. Jenis – Jenis Stres
Ditinjau dari penyebabnya, stres dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis berikut.
a. Stres fisik: merupakan stres yang disesbabkan oleh keadaan fisik, seperti suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara bising, sinar matahari yang terlalu menyengat, dll.
b. Stres kimiawi:merupakan stres yang disebabkan oleh pengaruh senyawa kimia yang terdapat pada obat-obatan, zat beracun asam, basa, faktor hormon atau gas, dll.
c. Stres mikirobiologis: merupakan stres yang diakibatkan oleh kuman, seperti firus, bakteri atau parasit.
d. Stres fisiologis: merupakan stres yang disebabkan oleh gangguan fungsi organ tubuh. Antara lain, gangguan struktur tubuh, fungsi jaringan, organ, dll.
e. Stres proses tumbuh kembang: merupakan stres yang disebabkan oleh proses tumbuh kembang seperti pada masa pubertas, pernikahan, dan pertambahan usia.
f. Stres psikologis atau emosional: merupakan stres yang disebabkan oleh gangguan situasi psikologis atau ketidakmampuan kondisi psikologis untuk menyesuaikan diri, misalnya dalam hubungan interpersonal, sosbud atau keagamaan.
Bab III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Stres adalah suatu reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll. Stres juga mempunyai beberapa macam dan juga memiliki sumber yang dapat kita sebut stressor, yang mana stressor itu sendiri terbagi menjadi dua kelompok besar; internal stressor dan eksternal stressor.
Jadi, dengan demikian kita haruslah pintar dalam menghadapi berbagai masalah atau kemelut yang timbul dalam kehidupan kita sehari-hari agar stres itu tidak menimpa pada diri kita masing-masing.
B. Saran
o Segeralah melakukan penanggulangan terhadap stres. Karena stres adalah merupakan awal dari terciptanya berbagai penyakit.
o Jangan pernah menganggap terlalu berat terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena hal itu dapat menimbulkan terjadinya stres.
o Segeralah bercerita terhadap orang-orang yang kita percayai (share) apabila kita sudah merasa tidak kuat menahannya sendiri. Karena hal itu akan mengurangi beban yang ada dalam diri.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz H. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika
Alimul, Aziz H. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
e.ilocanum
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermediet untuk perkembangannya.
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sebagai berikut:
a. Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
b. Trematoda paru: Paragonimus westermani
c. Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
d. Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
E. revolutum merupakan parasit cacing trematoda yang sering dilaporkan menginfeksi orang di Taiwan dan Indonesia.
E. malayanum ditemukan menginfeksi orang di India, Asia Tenggara dan India Barat.
Makalah ini disusun untuk menarik minat pembaca untuk lebih memahami bagaimana bentuk, cara penyebaran, gejala yang ditimbulkan hingga penanganan pada penyakit yang disebabkan oleh E. ilocanum, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui cacing yang ia temui saja.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut beberapa rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut :
1. Bagaimana morfologi E. ilocanum?
2. Bagaimana daur hidup E. ilocanum?
3. Bagaimana gejala klinis/patologi E. ilocanum?
4. Bagaimana diagnosis E. ilocanum ?
5. Bagaimana pengobatan E. ilocanum ?
6. Bagaimana pencegahan E. ilocanum ?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat diambil tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui morfologi E. ilocanum.
2. Untuk memahami daur hidup E. ilocanum.
3. Untuk mengetahui gejala klinis/patologi E. ilocanum.
4. Untuk mengetahui diagnosis E. ilocanum.
5. Untuk mengetahui pengobatan E. ilocanum.
6. Untuk memahami pencegahan E. ilocanum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi E. ilocanum
• Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah.
• Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala.
• Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm.
• Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing.
• Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
• Cacing dewasa hidup dalam usus halus, mempunyai warna agak merah ke abu-abuan.
• Telur mempunyai operkulum, besarnya berkisar antara 103-137 x 59-75 mikron.
2.2 Daur Hidup E. ilocanum
Cacing trematoda yang termasuk famili Echinostomatidae ini terciri dengan adanya duri leher yang melingkar dalam sebaris atau dua baris yang melingkari batl isap kepala. Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
2.3 Gejala Klinis/Patologi E. ilocanum
Biasanya cacing Echinostoma Ilocanum menyebabkan kerusakan ringan pada mukosa usus dan tidak menimbulkan gejala yang berarti. Infeksi berat menyebabkan timbulnya radang kataral pada dinding usus, atau ulserasi. Pada anak menimbulkan gejala diare, sakit perut, anemia dan edema.
2.4 Diagnosis E. ilocanum
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja.
2.5 Pengobatan E. ilocanum
Tetrakloroetolen adalah obat yang dianjurkan, akan tetapi penggunaan obat-obat baru yang lebih aman, seperti prazikuantel dapat dipertimbangkan.
2.6 Pencegahan E. ilocanum
Keong sawah yang digunakan untuk konsumsi sebaiknya dimasak sampai matang, sebab bila tidak, metaserkaria dapat hidup dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah. Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala. Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm. Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing. Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
3.2 Saran
Disarankan kepada pembaca agar selalu menjaga kebersihan diri, dimana kebersihan tersebut tidak hanya tertuju pada fisik kita tetapi juga pada barang atau bahan yang akan kita konsumsi ataupun yang akan bersentuhan dengan tubuh kita. Dan perlu kita ingat pula bahwa apa yang kita anggap bersih itu juga demikian adanya karena lebih baik kita mencegah penyakit ketika penyakit itu belum datang daripada kita mengobati penyakit yang telah pasti menyerang tubuh kita.
DAFTAR PUSTAKA
Crocodilusdarattensis. 2010. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://crocodilusdaratensis.wordpress.com)
Wikipedia. 2009. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://id.wikipedia.org)
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermediet untuk perkembangannya.
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sebagai berikut:
a. Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
b. Trematoda paru: Paragonimus westermani
c. Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
d. Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
E. revolutum merupakan parasit cacing trematoda yang sering dilaporkan menginfeksi orang di Taiwan dan Indonesia.
E. malayanum ditemukan menginfeksi orang di India, Asia Tenggara dan India Barat.
Makalah ini disusun untuk menarik minat pembaca untuk lebih memahami bagaimana bentuk, cara penyebaran, gejala yang ditimbulkan hingga penanganan pada penyakit yang disebabkan oleh E. ilocanum, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui cacing yang ia temui saja.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut beberapa rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut :
1. Bagaimana morfologi E. ilocanum?
2. Bagaimana daur hidup E. ilocanum?
3. Bagaimana gejala klinis/patologi E. ilocanum?
4. Bagaimana diagnosis E. ilocanum ?
5. Bagaimana pengobatan E. ilocanum ?
6. Bagaimana pencegahan E. ilocanum ?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat diambil tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui morfologi E. ilocanum.
2. Untuk memahami daur hidup E. ilocanum.
3. Untuk mengetahui gejala klinis/patologi E. ilocanum.
4. Untuk mengetahui diagnosis E. ilocanum.
5. Untuk mengetahui pengobatan E. ilocanum.
6. Untuk memahami pencegahan E. ilocanum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi E. ilocanum
• Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah.
• Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala.
• Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm.
• Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing.
• Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
• Cacing dewasa hidup dalam usus halus, mempunyai warna agak merah ke abu-abuan.
• Telur mempunyai operkulum, besarnya berkisar antara 103-137 x 59-75 mikron.
2.2 Daur Hidup E. ilocanum
Cacing trematoda yang termasuk famili Echinostomatidae ini terciri dengan adanya duri leher yang melingkar dalam sebaris atau dua baris yang melingkari batl isap kepala. Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
2.3 Gejala Klinis/Patologi E. ilocanum
Biasanya cacing Echinostoma Ilocanum menyebabkan kerusakan ringan pada mukosa usus dan tidak menimbulkan gejala yang berarti. Infeksi berat menyebabkan timbulnya radang kataral pada dinding usus, atau ulserasi. Pada anak menimbulkan gejala diare, sakit perut, anemia dan edema.
2.4 Diagnosis E. ilocanum
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja.
2.5 Pengobatan E. ilocanum
Tetrakloroetolen adalah obat yang dianjurkan, akan tetapi penggunaan obat-obat baru yang lebih aman, seperti prazikuantel dapat dipertimbangkan.
2.6 Pencegahan E. ilocanum
Keong sawah yang digunakan untuk konsumsi sebaiknya dimasak sampai matang, sebab bila tidak, metaserkaria dapat hidup dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah. Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala. Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm. Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing. Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
3.2 Saran
Disarankan kepada pembaca agar selalu menjaga kebersihan diri, dimana kebersihan tersebut tidak hanya tertuju pada fisik kita tetapi juga pada barang atau bahan yang akan kita konsumsi ataupun yang akan bersentuhan dengan tubuh kita. Dan perlu kita ingat pula bahwa apa yang kita anggap bersih itu juga demikian adanya karena lebih baik kita mencegah penyakit ketika penyakit itu belum datang daripada kita mengobati penyakit yang telah pasti menyerang tubuh kita.
DAFTAR PUSTAKA
Crocodilusdarattensis. 2010. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://crocodilusdaratensis.wordpress.com)
Wikipedia. 2009. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://id.wikipedia.org)
Radang
Pengertian
Dan Proses Terjadinya Radang
Bila sel-sel atau jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama hospes tetap hidup ada respon yang menyolok pada jaringan hidup disekitarnya. Respon terhadap cedera ini dinamakan peradangan. Yang lebih khusus peradangan adalah reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis.
Peradangan sebenarnya adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang,penghancuran jaringan nekrosis dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan. Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang dikoordinasi dengan baik yang dinamis dan kontinyu. Untuk menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan khususnya harus memiliki mikrosirkulasi fungsional.
Jadi yang dimaksud dengan radang adalah rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan cedera.
Pada proses peradangan terjadi pelepasan histamine dan zat-zat humoral lain kedalam cairan jaringan sekitarnya.
Akibat dari sekresi histamine tersebut berupa:
1. Peningkatan aliran darah lokal.
2. Peningkatan permeabilitas kapiler.
3. Perembesan ateri dan fibrinogen kedalam jaringan interstitial.
4. Edema ekstraseluler lokal.
5. Pembekuan cairan ekstraseluler dan cairan limfe.
Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi.
Adapun kejadiannya sebagai berikut: pada setiap luka pada jaringan akan timbul reaksi inflamasi atau reaksi vaskuler.Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka, kemudian fibrin akan membentuk semacam jala, struktur ini akan menutupi saluran limfe sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi.Dalam proses inflamasi juga terjadi phagositosis, mula-mula phagosit membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti dalam sel. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akan keluar protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit.Setelah itu makrofag mononuclear besar akan tiba di lokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit.Dan akhirnya terjadilah pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal.
Cairan kaya protein dan sel darah putih yang tertimbun dalam ruang ekstravaskular sebagai akibat reaksi radang disebut eksudat.
Beda Eksudat dan Transudat
Eksudat adalah cairan radang ekstravaskular dengan berat jenis tinggi (diatas 1.020) dan seringkali mengandung protein 2-4 mg % serta sel-sel darah putih yang melakukan emigrasi.Cairan ini tertimbun sebagai akibat permeabilitas vascular (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik intravascular sebagai akibat aliran lokal yang meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya.
Transudat adalah cairan dalam ruang interstitial yang terjadi hanya sebagai akibat tekanan hidrostatik atau turunnya protein plasma intravascular yang meningkat (tidak disebabkan proses peradangan/inflamasi).Berat jenis transudat pada umumnya kurang dari 1.012 yang mencerminkan kandungan protein yang rendah. Contoh transudat terdapat pada wanita hamil dimana terjadi penekanan dalam cairan tubuh.
Jenis-Jenis Eksudat
1. Eksudat non seluler
Eksudat serosa
Pada beberapa keadaan radang, eksudat hampir terdiri dari cairan dan zat-zat yang terlarut dengan sangat sedikit leukosit. Jenis eksudat nonseluler yang paling sederhana adalah eksudat serosa,yang pada dasamya terdiri dari protein yang bocor dari pembuluh-pembuluh darah yang permiable dalam daerah radang bersama-sama dengan cairan yang menyertainya. Contoh eksudat serosa yang paling dikenal adalah cairan luka melepuh.
Eksudat fibrinosa
Jenis eksudat nonseluler yang kedua adalah eksudat fibrinosa yang terbentuk jika protein yang dikeluarkan dari pembuluh dan terkumpul pada daerah peradangan yang mengandung banyak fibrinogen. Fibrinogen ini diubah menjadi fibrin, yang berupa jala jala lengket dan elastic (barangkali lebih dikenal sebagai tulang belakang bekuan darah). Eksudat fibrinosa sering dijumpai diatas permukaan serosa yang meradang seperti pleura dan pericardium dimana fibrin diendapkan dipadatkan menjadi lapisan kasar diatas membran yang terserang. Jika lapisan fibrin sudah berkumpul di permukaan serosa,sering akan timbul rasa sakit jika terjadi pergeseran atas permukaan yang satu dengan yang lain. Contoh pada penderita pleuritis akan merasa sakit sewaktu bernafas, karena terjadi pergesekan sewaktu mengambil nafas.
Eksudat musinosa (Eksudat kataral)
Jenis eksudat ini hanya dapat terbentuk diatas membran mukosa, dimana terdapat sel-sel yang dapat mengsekresi musin. Jenis eksudat ini berbeda dengan eksudat lain karena eksudat ini merupakan sekresi set bukan dari bahan yang keluar dari aliran darah. Sekresi musin merupakan sifat normal membran mukosa dan eksudat musin merupakan percepatan proses dasar fisiologis.Contoh eksudat musin yang paling dikenal dan sederhana adalah pilek yang menyertai berbagai infeksi pemafasan bagian atas.
2. Eksudat Seluler
Eksudat netrofilik
Eksudat yang mungkin paling sering dijumpai adalah eksudat yang terutama terdiri dari neutrofil polimorfonuklear dalam jumlah yang begitu banyak sehingga bagian cairan dan protein kurang mendapat perhatian. Eksudat neutrofil semacam ini disebut purulen. Eksudat purulen sangat sering terbentuk akibat infeksi bakteri.lnfeksi bakteri sering menyebabkan konsentrasi neutrofil yang luar biasa tingginya di dalam jaringan dan banyak dari sel-sel ini mati dan membebaskan enzim-enzim hidrolisis yang kuat disekitarnya. Dalam keadaan ini enzim-enzim hidrolisis neutrofil secara haraf ah mencernakan jaringan dibawahnya dan mencairkannya. Kombinasi agregasi netrofil dan pencairan jaringan-jaringan di bawahnya ini disebut suppuratif,atau lebih sering disebut pus/nanah.
Jadi pus terdiri dari :
- neutrofil pmn. yang hidup dan yang mati neutrofil pmn. yang hancur
- hasil pencairan jaringan dasar (merupakan hasil pencernaan)
- eksudat cair dari proses radang
- bakteri-bakteri penyebab
- nekrosis liquefactiva.
3. Eksudat Campuran
Sering terjadi campuran eksudat seluler dan nonseluler dan campuran ini dinamakan sesuai dengan campurannya.Jika terdapat eksudat fibrinopurulen yang terdiri dari fibrin dan neutrofil polimorfonuklear,eksudat mukopurulen, yang terdiri dari musin dan neutrofil, eksudat serofibrinosa dan sebagainya.
Luka Bakar Mudah Terjadi Septikhemi.
Pada luka bakar saluran-saluran limfe tetap terbuka yaitu karena jaringan yang terbakar tidak menimbulkan tromboplastin sehingga tidak terjadi kooagulasi eksudat. Jika aliran cairan limfe tidak tersumbat akan memudahkan menyebarkan kuman-kuman sehingga masuk dalam sirkulasi darah dan terjadi septikhemi.
Reaksi sel pada radang
Leukositosis terjadi bila ada jaringan cedera atau infeksi sehingga pada tempat cedera atau radang dapat terkumpul banyak leukosit untuk membendung infeksi atau menahan microorganisme menyebar keseluruh jaringan.
Leukositosis ini disebabkan karena produksi sumsum tulang meningkat, sehingga jumlahnya dalam darah cukup untuk emigrasi pada waktu terjadi cedera atau radang. Karena itu banyak leukosit yang masih muda dalam darah, dalam pemeriksaan laboratorium dikatakan pergeseran ke kiri
Jenis-Jenis Leukosit Dan Masing-Masing Fungsinya Dalam Peradangan
Leukosit yang bersirkulasi dalam aliran darah dan emigrasi ke dalam eksudat peradangan berasal dari sumsum tulang, di mana tidak saja leukosit tetapi juga sel-sel darah merah dan trombosit dihasilkan secara terus memenerus.Dalam keadaan normal, di dalam sumsum tulang dapat ditemukan banyak sekali leukosit yang belum matang dari berbagai jenis dan "pool" leukosit matang yang ditahan sebagai cadangan untuk dilepaskan ke dalam sirkulasi darah. Jumlah tiap jenis leukosit yang bersirkulasi dalam darah perifer dibatasi dengan ketat tetapi diubah "sesuai kebutuhan" jika timbul proses peradangan. Artinya, dengan rangsangan respon peradangan, sinyal umpan balik pada sumsum tulang mengubah laju produksi dan pengeluaran satu jenis leukosit atau lebih ke dalam aliran darah.
1. Granulosit.
Terdiri dari : neutrofil, eosinofil, dan basofil.
Dua jenis leukosit lain ialah monosit dan limposit, tidak mengandung banyak granula dalam sitoplasmanya.
a) Neutrofil
Sel-sel pertama yang timbul dalam jumlah besar di dalam eksudat pada jamjam pertama peradangan adalah neutrofil.Inti dari sel ini berlobus tidak teratur atau polimorf. Karena itu sel-sel ini disebut neutrofil polimorfonuklear (pmn) atau "pool". Sel-sel ini memiliki urutan perkembangan di dalam sumsum tulang, perkembangan ini kira-kira memerlukan 2 minggu. Bila mereka dilepaskan ke dalam sirkulasi darah, waktu paruhnya dalam sirkulasi kira-kira 6 jam. Per millimeter kubik darah terdapat kira-kira 5000 neutrofil, kira-kira 100 kali dari jumlah ini tertahan dalam sumsum tulang sebagai bentuk matang yang siap untuk dikeluarkan bila ada sinyal.
Granula yang banyak sekali terlihat dalam sitoplasma neutrofil sebenarnya merupakan paket-paket enzim yang terikat membran yaitu lisosom, yang dihasilkan selama pematangan sel. Jadi neutrofil pmn yang matang adalah kantong yang mengandung banyak enzim dan partikel-partikel antimicrobial. Neutrofil pmn mampu bergerak aktif dan mampu menelan berbagai zat dengan proses yang disebut fagositosis. Proses fagositosis dibantu oleh zat-zat tertentu yang melapisi obyek untuk dicernakan dan membuatnya lebih mudah dimasukkan oleh leukosit. Zat ini dinamakan opsonin. Setelah mencernakan partikel dan memasukkannya ke dalam sitoplasma dalam vakuola fagositosis atau fagosom, tugas berikutnya dari leukosit adalah mematikan partikel itu jika partikel itu agen microbial yang hidup, dan mencernakannya. Mematikan agen-agen yang hidup itu diselesaikan melalui berbagai cara yaitu perubahan pH dalam sel setelah fagositosis, melepaskan zat-zat anti bakteri. Pencernaan partikel yang terkena fagositosis itu umumnya diselesaikan di dalam vakuola dengan penyatuan lisosom dengan fagosom. Enzim-enzim pencernaan yang sebelumnya tidak aktif sekarang diaktifkan di dalam fagolisosom, mengakibatkan pencernaan obyek secara enzimatik.
b) Eosinofil
Merupakan jenis granulosit lain yang dapat ditemukan dalam eksudat peradangan, walaupun dalam jumlah yang lebih kecil. Eosinofil secara fungsional akan memberikan respon terhadap rangsang kemotaksis khas tertentu yang ditimbulkan pada perkembangan allergis dan mereka mengandung enzim-enzim yang mampu menetralkan efek-efek mediator peradangan tertentu yang dilepaskan dalam reaksi peradangan semacam itu.
c) Basofil
Berasal dari sumsum tulang yang juga disebut mast sel/basofil jaringan. Granula dari jenis sel ini mengandung berbagai enzim, heparin, dan histamin. Basofil akan memberikan respon terhadap sinyal kemotaksis yang dilepaskan dalam perjalanan reaksi immunologis tertentu. Dan basofil biasanya terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dalam eksudat.
Basofil darah dan mast sel jaringan dirangsang untuk melepas granulanya pada berbagai keadaan cedera, termasuk reaksi immunologis maupun reaksi non spesifik.Dalam kenyataannya mast sel adalah sumber utama histamin pada reaksi peradangan.
2. Monosit
Adalah bentuk leukosit yang penting. Pada reaksi peradangan monosit akan bermigrasi, tetapi jumlahnya lebih sedikit dan kecepatannya lebih lambat. Karena itu, pada jam jam pertama peradangan relative sedikit terdapat monosit dalasn eksudat. Namun makin lama akan makin bertambah adanya monosit dalam eksudat. Sel yang sama yang dalam aliran darah disebut monosit, kalau terdapat dalam eksudat disebut makrofag. Ternyata, jenis sel yang sama ditemukan dalam jumlah kecil melalui jaringan penyambung tubuh walaupun tanpa peradangan yang jelas. Makrofag yang terdapat dalam jaringan penyambung ini disebut histiosit. Dengan banyak hal fungsi makrofag sangat mirip dengan fungsi neutrofil pmn. dimana makrofag akan bergerak secara aktif yang memberi respon terhadap stimulasi kemotaksis, fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencernakan berbagal agen. Ada perbedaan penting antara makrofag dan neutrofil, dimana siklus kehidupan makrofag lebih panjang, dapat bertahan berminggu-minngu atau bahkan berbulan-bulan dalam jaringan dibanding dengan neutrofil yang berumur pendek. Selain itu waktu monosit memasuki aliran darah dari sumsum tulang dan waktu memasuki jaringan dari aliran darah, ia belum matang betul seperti halnya neutrofil. Karena neutrofil dalam jaringan dan aliran darah sudah mengalami pematangan (sudah matang), sehingga ia tidak mampu melakukan pembelahan sel dan juga tidak mampu melakukan sintesis enzim-enzim pencenna. Pada monosit dapat dirangsang untuk membelah dalam jaringan, dan mereka mampu memberi respon terhadap keadaan lokal dengan mensintesis sejumlah enzim intrasel. Kemampuan untuk menjalani "on the.job training", ini adalah suatu sifat makrofag yang vital, khususnya pada reaksireaksi immunologis tertentu. Selain itu makrofag-makrofag dapat mengalami perubahan bentuk, selama mengalami perubahan itu, mereka menghasilkan seI-se1 secara tradisional disebut sel epiteloid. Makrofag juga mampu bergabung membentuk sel raksasa berinti banyak disebut giant cell.
Walaupun makrofag merupakan komponen penting dalam eksudat namun mereka tersebar secara luas dalam tubuh, dalam keadaan normal dan disebut sebagai system reticuloendotelial atau RES (Reticulo Endotelial System), yang mempunyai sifat fagositosis, termasuk juga dalam hati, sel tersebut dikenal sebagai sel kupffer. Fungsi utama makrofag sebagai pembersih dalam darah ataupun seluruh jaringan tubuh.Fungsi RES yang sehari-hari penting menyangkut pemrosesan haemoglobin sel darah merah yang sudah mencapai akhir masa hidupnya. Sel-sel ini mampu memecah Hb menjadi suatu zat yang mengandung besi dan zat yang tidak mengandung besi. Besinya dipakai kembali dalam tubuh untuk pembuatan sel-sel darah merah lain dalam sumsum tulang dan zat yang tidak mengandung besi dikenal sebagai bilirubin, di bawa ke dalam aliran darah ke hati, dimana hepatosit mengekstrak bilirubin dari aliran darah dan mengeluarkannya sebagai bagian dari empedu.
3. Limposit
Umumnya terdapat dalam eksudat hanya dalam jumlah yang sangat kecil,meskipu eksudat sudah lama terbentuk yaitu sampai reaksi-reaksi peradangan menjadi kronis.
Tanda-Tanda Kardinal Peradangan
Pada peristiwa peradangan akut dapat dilihat tanda-tanda pokok (gejala kardinal).
1. Rubor (kemerahan)
Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteriol yang mensupali daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian saja yang meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini yang dinamakan hyperemia atau kongesti,menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut. Timbulnya hyperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh tubuh baik secara neurogenik maupun secara kimia,melalui pengeluaran zat seperti histamin.
2. Kalor (panas)
Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya terjadi pada permukaan tubuh, yang dalam keadaan normal lebih dingin dari -37 °C yaitu suhu di dalam tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya sebab darah yang disalurkan tubuh kepermukaan daerah yang terkena lebih banyak daripada yang disalurkan kedaerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada daerah-daerah yang terkena radang jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti 37°C, hyperemia lokal tidak menimbulkan perubahan.
3. Dolor (rasa sakit)
Dolor atau rasa sakit, dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang sama, pengeluaran zat kimia bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang tanpa diragukan lagi dapat menimbulkan rasa sakit.
4. Tumor (pembengkaan)
Segi paling menyolok dari peradangan akut mungkin adalah pembengkaan lokal (tumor). Pembengkaan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat. Pada keadaan dini reaksi peradangan sebagian besar eksudat adalah cair, seperti yang terjadi pada lepuhan yang disebabkan oleh luka bakar ringan. Kemudian sel-sel darah putih atau leukosit meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian dari eksudat.
5. Fungsio laesa (perubahan fungsi)
Fungsio laesa atau perubahan fungsi adalah reaksi peradangan yang telah dikenal. Sepintas lalu, mudah dimengerti, mengapa bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dart lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, berfungsi secara abnormal. Namun sebetulnya kita tidak mengetahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan yang meradang itu terganggu.
Berbagai bentuk/Jenis Radang
Bentuk peradangan dapat timbul didasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ atau jaringan tertentu yang terlibat, dan lamanya proses peradangan. Tata nama proses peradangan memperhitungkan masing-masing variable ini. Berbagai eksudat diberi nama deskriptif. Lamanya respon peradangan disebut akut;disebut kronik jika ada bukti perbaikan yang sudah lanjut bersama dengan dumadhsi;dan disebut subakut jika ada bukti awal perbaikan bersama dengan eksudasi. Lokasi reaksi peradangan disebut dengan akhiran -it is yang ditambahkan pada nama organ (misalnya; apendisitis, tonsillitis).
Jenis Radang
Misalnya: radang kataral, radang pseudomembran, ulkus, abses, flegmon, radang purulen, suppurativaa dan lain-lain.
a) Radang Kataral
Terbentuk diatas permukaan membran mukosa,dimana terdapat sel-sel yang dapat mensekresi musin. Eksudat musin yang paling banyak dikenal adalah puck yang menyertai banyak infeksi pernafasan bagian atas.
b) Radang Pseudomembran
Istilah ini dipakai untuk reaksi radang pada permukaan selaput lendir yang ditandai dengan pembentukan eksudat berupa lapisan selaput superficial, mengandung agen penyebab, endapan fibrin, sel-sel nekrotik aktif dan sel-sel darah putih radang.Radang membranosa sering dijumpai dalam orofaring, trachea,bronkus, dan traktus gastrointestinal.
c) Ulkus.
Terjadi apabila sebagian permukaan jaringan hilang sedangkan jaringan sekitarnya meradang.
d) Abses
Abses adalah lubang yang terisi nanah dalam jaringan. Abses adalah lesi yang sulit untuk diatasi oleh tubuh karena kecenderungannya untuk meluas dengan pencairan, kecenderungannya untuk membentuk lubang dan resistensinya terhadap penyembuhan. Jika terbentuk abses, maka obat-obatan seperti antibiotik dalam darah sulit masuk ke dalam abses. Umumnya penanganan abses oleh tubuh sangat dibantu oleh pengosongannya secara pembedahan, sehingga memungkinkan ruang yang sebelumnya berisi nanah mengecil dan sembuh. Jika abses tidak dikosongkan secara pembedahan oleh ahli bedah, maka abses cenderung untuk meluas, merusak struktur lain yang dilalui oleh abses tersebut.
e) Flegmon
Flegmon: radang purulen yang meluas secara defuse pada jaringan.
f) Radang Purulent
Terjadi akibat infeksi bakteri.terdapat pada cedera aseptik dan dapat terjadi dimana-mana pada tubuh yang jaringannya telah menjadi nekrotik.
g) Radang supuratif
Gambaran ini adalah nekrosis liqeuvaktifa yang disertal emigrasi neutrofil dalam jumlah banyak.Infeksi supuratif local disebabkan oleh banyak macam bakteri yang secara kolektif diberi nama piogen (pembentukan nanah).Yang termasuk piogen adalah stafilokokkus,banyak basil gram negatif. Perbedaan penting antara radang supuratif dan radang purulen bahwa pada radang supuratif terjadi nekrosis liquefaktiva dari jaringan dasar. Nekrosis liquefaktiva adalah jaringan nekrotik yang sedikit demi sedikit mencair akibat enzim.
Aspek/Reaksi Sistemik Pada Peradangan
Reaksi sistemik yang menyertai reaksi local pada peradangan diantaranya adalah
1. Demam.
Yang merupakan akibat dari pelepasan zat pirogen endogen yang berasal dari neutrofil dan makrofag. Selanjutnya zat tersebut akan memacu pusat pengendali suhu tubuh yang ada dihypothalamus.
2. Perubahan hematologis.
Rangsangan yang berasal dari pusat peradangan mempengaruhi proses maturasi dan pengeluaran leukosit dari sumsum tulang yang mengakibatkan kenaikan suatu jenis leukosit, kenaikan ini disebut leukositosis. Perubahan protein darah tertentu juga terjadi bersamaan dengan perubahan apa yang dinamakan laju endap darah.
3. Gejala konstitusional.
Pada cedera yang hebat, terjadi perubahan metabolisme dan endokrin yang menyolok. Akhirnya reaksi peradangan local sering diiringi oleh berbagai gejala konstitusional yang berupa malaise, anoreksia atau tidak ada nafsu makan dan ketidakmampuan melakukan sesuatu yang beratnya berbeda-beda bahkan sampai tidak berdaya melakukan apapun.
Beda Radang Dengan Infeksi
Peradangan dan infeksi itu tidak sinonim.Pada infeksi ditandai adanya mikroorganisme dalam jaringan, sedang pada peradangan belum tentu, karena banyak peradangan yang tejadi steril sempurna.Jadi infeksi hanyalah merupakan sebagian dari peradangan.
Nasib Radang Dan Pemulihan Jaringan Pada Radang
Dengan adanya reaksi peradangan, maka hasil perbaikan yang paling menggembirakan yang dapat diperoleh adalah, jika terjadi hanya sedikit kerusakan atau tidak ada kerusakan jaringan di bawahnya sama sekali. Pada keadaan semacam itu jika agen penyerang sudah dinetralkan dan dihilangkan. Pembuluh darah kecil di daerah itu memperoleh kembali semipermeabilitasnya, aliran cairan berhenti dan emigrasi leukosit dengan cara yang sama juga berhenti. Cairan yang sebelumnya sudah dieksudasikan sedikit demi sedikit diserap oleh pembuluh limfe dan sel-sel eksudat mengalami disintegrasi dan keluar melalui pembuluh limfe atau benar-benar dihilangkan dari tubuh. Hasil akhir dari proses ini adalah penyembuhan jaringan yang meradang jaringan tersebut pulih seperti sebelum reaksi. Gejala ini disebut resolusi.
Sebaliknya, bila jumlah jaringan yang rusak cukup bermakna jaringan yang rusak harus diperbaiki oleh proliferasi sel-sel hospes berdekatan yang masih hidup. Perbaikan sebenarnya melibatkan dua komponen yang terpisah tetapi terkoordinir. Pertama disebut regenerasi Hasil akhirnya adalah penggantian unsureunsur yang telah hilang dengan jenis sel yang sama. Komponen perbaikan kedua melibatkan proliferasi unsur-unsur jaringan penyambung yang mengakibatkan pembentukan jaringan parut.
Penyembuhan luka.
Koordinasi pembentukan parut dan regenerasi barangkali paling mudah dilukiskan pada kasus penyembuhan luka kulit. Jenis penyembuhan yang paling sederhana terlihat pada penanganan luka oleh tubuh seperti pada insisi pembedahan, dimana pinggir luka dapat didekatkan agar proses penyembuhan dapat terjadi. Penyembuhan semacam ini disebut penyembuhan primer atau healing by first intention. Setelah teijadi luka maka tepi luka dihubungkan oleh sedikit bekuan darah yang fibrinnya bekerja seperti lem. Segera setelah itu terjadilah reaksi peradangan akut pada tepi luka itu dan sel-sel radang, khususnya makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai menghancurkanya. Dekat reaksi peradangan eksudat ini, terjadi pertumbuhan ke dalam oleh jaringan granulasi ke dalam daerah yang tadinya ditempati oleh bekuan darah. Dengan demikian maka dalam jangka waktu beberapa hari luka itu dijembatani oleh jaringan granulasi yang disiapkan agar matang menjadi jaringan parut. Sementara proses ini berjalan maka epitel permukaan di bagian tepi mulai melakukan regenerasi dan dalam waktu beberapa hari bermigrasi lapisan tipis epitel diatas permukaa luka.Waktu jaringan parut di bawahnya menjadi matang, epitel ini juga menebal dan matang sehingga menyerupai kulit yang didekatnya. Hasil akhirnya adalah terbentuknya kembali permukaan kulit dan dasar jaringan parut yang tidak nyata atau hanya terlihat sebagai satu garis yang menebal. Pada luka lainnya diperlukan jahitan untuk mendekatkan kedua tepi luka sampai terjadi penyembuhan.
Bentuk penyembuhan kedua terjadi jika luka kulit sedemikian rupa sehingga tepi luka tidak dapat saling didekatkan selama proses penyembuhan. Keadaan ini disebut healing by second intention atau kadang kala disebut penyembuhan yang disertai granulasi
Penyembuhan Abses
Penyembuhan akan berlangsung lebih cepat bila isi abses dapat keluar. Abses kecil akan diorganisasi dan menjadi jaringan ikat. Abses besar hanya sekitarnya akan diorganisasi dan menjadi jaringan ikat.
Dan Proses Terjadinya Radang
Bila sel-sel atau jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama hospes tetap hidup ada respon yang menyolok pada jaringan hidup disekitarnya. Respon terhadap cedera ini dinamakan peradangan. Yang lebih khusus peradangan adalah reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis.
Peradangan sebenarnya adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang,penghancuran jaringan nekrosis dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan. Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang dikoordinasi dengan baik yang dinamis dan kontinyu. Untuk menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan khususnya harus memiliki mikrosirkulasi fungsional.
Jadi yang dimaksud dengan radang adalah rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan cedera.
Pada proses peradangan terjadi pelepasan histamine dan zat-zat humoral lain kedalam cairan jaringan sekitarnya.
Akibat dari sekresi histamine tersebut berupa:
1. Peningkatan aliran darah lokal.
2. Peningkatan permeabilitas kapiler.
3. Perembesan ateri dan fibrinogen kedalam jaringan interstitial.
4. Edema ekstraseluler lokal.
5. Pembekuan cairan ekstraseluler dan cairan limfe.
Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi.
Adapun kejadiannya sebagai berikut: pada setiap luka pada jaringan akan timbul reaksi inflamasi atau reaksi vaskuler.Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka, kemudian fibrin akan membentuk semacam jala, struktur ini akan menutupi saluran limfe sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi.Dalam proses inflamasi juga terjadi phagositosis, mula-mula phagosit membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti dalam sel. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akan keluar protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit.Setelah itu makrofag mononuclear besar akan tiba di lokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit.Dan akhirnya terjadilah pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal.
Cairan kaya protein dan sel darah putih yang tertimbun dalam ruang ekstravaskular sebagai akibat reaksi radang disebut eksudat.
Beda Eksudat dan Transudat
Eksudat adalah cairan radang ekstravaskular dengan berat jenis tinggi (diatas 1.020) dan seringkali mengandung protein 2-4 mg % serta sel-sel darah putih yang melakukan emigrasi.Cairan ini tertimbun sebagai akibat permeabilitas vascular (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik intravascular sebagai akibat aliran lokal yang meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya.
Transudat adalah cairan dalam ruang interstitial yang terjadi hanya sebagai akibat tekanan hidrostatik atau turunnya protein plasma intravascular yang meningkat (tidak disebabkan proses peradangan/inflamasi).Berat jenis transudat pada umumnya kurang dari 1.012 yang mencerminkan kandungan protein yang rendah. Contoh transudat terdapat pada wanita hamil dimana terjadi penekanan dalam cairan tubuh.
Jenis-Jenis Eksudat
1. Eksudat non seluler
Eksudat serosa
Pada beberapa keadaan radang, eksudat hampir terdiri dari cairan dan zat-zat yang terlarut dengan sangat sedikit leukosit. Jenis eksudat nonseluler yang paling sederhana adalah eksudat serosa,yang pada dasamya terdiri dari protein yang bocor dari pembuluh-pembuluh darah yang permiable dalam daerah radang bersama-sama dengan cairan yang menyertainya. Contoh eksudat serosa yang paling dikenal adalah cairan luka melepuh.
Eksudat fibrinosa
Jenis eksudat nonseluler yang kedua adalah eksudat fibrinosa yang terbentuk jika protein yang dikeluarkan dari pembuluh dan terkumpul pada daerah peradangan yang mengandung banyak fibrinogen. Fibrinogen ini diubah menjadi fibrin, yang berupa jala jala lengket dan elastic (barangkali lebih dikenal sebagai tulang belakang bekuan darah). Eksudat fibrinosa sering dijumpai diatas permukaan serosa yang meradang seperti pleura dan pericardium dimana fibrin diendapkan dipadatkan menjadi lapisan kasar diatas membran yang terserang. Jika lapisan fibrin sudah berkumpul di permukaan serosa,sering akan timbul rasa sakit jika terjadi pergeseran atas permukaan yang satu dengan yang lain. Contoh pada penderita pleuritis akan merasa sakit sewaktu bernafas, karena terjadi pergesekan sewaktu mengambil nafas.
Eksudat musinosa (Eksudat kataral)
Jenis eksudat ini hanya dapat terbentuk diatas membran mukosa, dimana terdapat sel-sel yang dapat mengsekresi musin. Jenis eksudat ini berbeda dengan eksudat lain karena eksudat ini merupakan sekresi set bukan dari bahan yang keluar dari aliran darah. Sekresi musin merupakan sifat normal membran mukosa dan eksudat musin merupakan percepatan proses dasar fisiologis.Contoh eksudat musin yang paling dikenal dan sederhana adalah pilek yang menyertai berbagai infeksi pemafasan bagian atas.
2. Eksudat Seluler
Eksudat netrofilik
Eksudat yang mungkin paling sering dijumpai adalah eksudat yang terutama terdiri dari neutrofil polimorfonuklear dalam jumlah yang begitu banyak sehingga bagian cairan dan protein kurang mendapat perhatian. Eksudat neutrofil semacam ini disebut purulen. Eksudat purulen sangat sering terbentuk akibat infeksi bakteri.lnfeksi bakteri sering menyebabkan konsentrasi neutrofil yang luar biasa tingginya di dalam jaringan dan banyak dari sel-sel ini mati dan membebaskan enzim-enzim hidrolisis yang kuat disekitarnya. Dalam keadaan ini enzim-enzim hidrolisis neutrofil secara haraf ah mencernakan jaringan dibawahnya dan mencairkannya. Kombinasi agregasi netrofil dan pencairan jaringan-jaringan di bawahnya ini disebut suppuratif,atau lebih sering disebut pus/nanah.
Jadi pus terdiri dari :
- neutrofil pmn. yang hidup dan yang mati neutrofil pmn. yang hancur
- hasil pencairan jaringan dasar (merupakan hasil pencernaan)
- eksudat cair dari proses radang
- bakteri-bakteri penyebab
- nekrosis liquefactiva.
3. Eksudat Campuran
Sering terjadi campuran eksudat seluler dan nonseluler dan campuran ini dinamakan sesuai dengan campurannya.Jika terdapat eksudat fibrinopurulen yang terdiri dari fibrin dan neutrofil polimorfonuklear,eksudat mukopurulen, yang terdiri dari musin dan neutrofil, eksudat serofibrinosa dan sebagainya.
Luka Bakar Mudah Terjadi Septikhemi.
Pada luka bakar saluran-saluran limfe tetap terbuka yaitu karena jaringan yang terbakar tidak menimbulkan tromboplastin sehingga tidak terjadi kooagulasi eksudat. Jika aliran cairan limfe tidak tersumbat akan memudahkan menyebarkan kuman-kuman sehingga masuk dalam sirkulasi darah dan terjadi septikhemi.
Reaksi sel pada radang
Leukositosis terjadi bila ada jaringan cedera atau infeksi sehingga pada tempat cedera atau radang dapat terkumpul banyak leukosit untuk membendung infeksi atau menahan microorganisme menyebar keseluruh jaringan.
Leukositosis ini disebabkan karena produksi sumsum tulang meningkat, sehingga jumlahnya dalam darah cukup untuk emigrasi pada waktu terjadi cedera atau radang. Karena itu banyak leukosit yang masih muda dalam darah, dalam pemeriksaan laboratorium dikatakan pergeseran ke kiri
Jenis-Jenis Leukosit Dan Masing-Masing Fungsinya Dalam Peradangan
Leukosit yang bersirkulasi dalam aliran darah dan emigrasi ke dalam eksudat peradangan berasal dari sumsum tulang, di mana tidak saja leukosit tetapi juga sel-sel darah merah dan trombosit dihasilkan secara terus memenerus.Dalam keadaan normal, di dalam sumsum tulang dapat ditemukan banyak sekali leukosit yang belum matang dari berbagai jenis dan "pool" leukosit matang yang ditahan sebagai cadangan untuk dilepaskan ke dalam sirkulasi darah. Jumlah tiap jenis leukosit yang bersirkulasi dalam darah perifer dibatasi dengan ketat tetapi diubah "sesuai kebutuhan" jika timbul proses peradangan. Artinya, dengan rangsangan respon peradangan, sinyal umpan balik pada sumsum tulang mengubah laju produksi dan pengeluaran satu jenis leukosit atau lebih ke dalam aliran darah.
1. Granulosit.
Terdiri dari : neutrofil, eosinofil, dan basofil.
Dua jenis leukosit lain ialah monosit dan limposit, tidak mengandung banyak granula dalam sitoplasmanya.
a) Neutrofil
Sel-sel pertama yang timbul dalam jumlah besar di dalam eksudat pada jamjam pertama peradangan adalah neutrofil.Inti dari sel ini berlobus tidak teratur atau polimorf. Karena itu sel-sel ini disebut neutrofil polimorfonuklear (pmn) atau "pool". Sel-sel ini memiliki urutan perkembangan di dalam sumsum tulang, perkembangan ini kira-kira memerlukan 2 minggu. Bila mereka dilepaskan ke dalam sirkulasi darah, waktu paruhnya dalam sirkulasi kira-kira 6 jam. Per millimeter kubik darah terdapat kira-kira 5000 neutrofil, kira-kira 100 kali dari jumlah ini tertahan dalam sumsum tulang sebagai bentuk matang yang siap untuk dikeluarkan bila ada sinyal.
Granula yang banyak sekali terlihat dalam sitoplasma neutrofil sebenarnya merupakan paket-paket enzim yang terikat membran yaitu lisosom, yang dihasilkan selama pematangan sel. Jadi neutrofil pmn yang matang adalah kantong yang mengandung banyak enzim dan partikel-partikel antimicrobial. Neutrofil pmn mampu bergerak aktif dan mampu menelan berbagai zat dengan proses yang disebut fagositosis. Proses fagositosis dibantu oleh zat-zat tertentu yang melapisi obyek untuk dicernakan dan membuatnya lebih mudah dimasukkan oleh leukosit. Zat ini dinamakan opsonin. Setelah mencernakan partikel dan memasukkannya ke dalam sitoplasma dalam vakuola fagositosis atau fagosom, tugas berikutnya dari leukosit adalah mematikan partikel itu jika partikel itu agen microbial yang hidup, dan mencernakannya. Mematikan agen-agen yang hidup itu diselesaikan melalui berbagai cara yaitu perubahan pH dalam sel setelah fagositosis, melepaskan zat-zat anti bakteri. Pencernaan partikel yang terkena fagositosis itu umumnya diselesaikan di dalam vakuola dengan penyatuan lisosom dengan fagosom. Enzim-enzim pencernaan yang sebelumnya tidak aktif sekarang diaktifkan di dalam fagolisosom, mengakibatkan pencernaan obyek secara enzimatik.
b) Eosinofil
Merupakan jenis granulosit lain yang dapat ditemukan dalam eksudat peradangan, walaupun dalam jumlah yang lebih kecil. Eosinofil secara fungsional akan memberikan respon terhadap rangsang kemotaksis khas tertentu yang ditimbulkan pada perkembangan allergis dan mereka mengandung enzim-enzim yang mampu menetralkan efek-efek mediator peradangan tertentu yang dilepaskan dalam reaksi peradangan semacam itu.
c) Basofil
Berasal dari sumsum tulang yang juga disebut mast sel/basofil jaringan. Granula dari jenis sel ini mengandung berbagai enzim, heparin, dan histamin. Basofil akan memberikan respon terhadap sinyal kemotaksis yang dilepaskan dalam perjalanan reaksi immunologis tertentu. Dan basofil biasanya terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dalam eksudat.
Basofil darah dan mast sel jaringan dirangsang untuk melepas granulanya pada berbagai keadaan cedera, termasuk reaksi immunologis maupun reaksi non spesifik.Dalam kenyataannya mast sel adalah sumber utama histamin pada reaksi peradangan.
2. Monosit
Adalah bentuk leukosit yang penting. Pada reaksi peradangan monosit akan bermigrasi, tetapi jumlahnya lebih sedikit dan kecepatannya lebih lambat. Karena itu, pada jam jam pertama peradangan relative sedikit terdapat monosit dalasn eksudat. Namun makin lama akan makin bertambah adanya monosit dalam eksudat. Sel yang sama yang dalam aliran darah disebut monosit, kalau terdapat dalam eksudat disebut makrofag. Ternyata, jenis sel yang sama ditemukan dalam jumlah kecil melalui jaringan penyambung tubuh walaupun tanpa peradangan yang jelas. Makrofag yang terdapat dalam jaringan penyambung ini disebut histiosit. Dengan banyak hal fungsi makrofag sangat mirip dengan fungsi neutrofil pmn. dimana makrofag akan bergerak secara aktif yang memberi respon terhadap stimulasi kemotaksis, fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencernakan berbagal agen. Ada perbedaan penting antara makrofag dan neutrofil, dimana siklus kehidupan makrofag lebih panjang, dapat bertahan berminggu-minngu atau bahkan berbulan-bulan dalam jaringan dibanding dengan neutrofil yang berumur pendek. Selain itu waktu monosit memasuki aliran darah dari sumsum tulang dan waktu memasuki jaringan dari aliran darah, ia belum matang betul seperti halnya neutrofil. Karena neutrofil dalam jaringan dan aliran darah sudah mengalami pematangan (sudah matang), sehingga ia tidak mampu melakukan pembelahan sel dan juga tidak mampu melakukan sintesis enzim-enzim pencenna. Pada monosit dapat dirangsang untuk membelah dalam jaringan, dan mereka mampu memberi respon terhadap keadaan lokal dengan mensintesis sejumlah enzim intrasel. Kemampuan untuk menjalani "on the.job training", ini adalah suatu sifat makrofag yang vital, khususnya pada reaksireaksi immunologis tertentu. Selain itu makrofag-makrofag dapat mengalami perubahan bentuk, selama mengalami perubahan itu, mereka menghasilkan seI-se1 secara tradisional disebut sel epiteloid. Makrofag juga mampu bergabung membentuk sel raksasa berinti banyak disebut giant cell.
Walaupun makrofag merupakan komponen penting dalam eksudat namun mereka tersebar secara luas dalam tubuh, dalam keadaan normal dan disebut sebagai system reticuloendotelial atau RES (Reticulo Endotelial System), yang mempunyai sifat fagositosis, termasuk juga dalam hati, sel tersebut dikenal sebagai sel kupffer. Fungsi utama makrofag sebagai pembersih dalam darah ataupun seluruh jaringan tubuh.Fungsi RES yang sehari-hari penting menyangkut pemrosesan haemoglobin sel darah merah yang sudah mencapai akhir masa hidupnya. Sel-sel ini mampu memecah Hb menjadi suatu zat yang mengandung besi dan zat yang tidak mengandung besi. Besinya dipakai kembali dalam tubuh untuk pembuatan sel-sel darah merah lain dalam sumsum tulang dan zat yang tidak mengandung besi dikenal sebagai bilirubin, di bawa ke dalam aliran darah ke hati, dimana hepatosit mengekstrak bilirubin dari aliran darah dan mengeluarkannya sebagai bagian dari empedu.
3. Limposit
Umumnya terdapat dalam eksudat hanya dalam jumlah yang sangat kecil,meskipu eksudat sudah lama terbentuk yaitu sampai reaksi-reaksi peradangan menjadi kronis.
Tanda-Tanda Kardinal Peradangan
Pada peristiwa peradangan akut dapat dilihat tanda-tanda pokok (gejala kardinal).
1. Rubor (kemerahan)
Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteriol yang mensupali daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian saja yang meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini yang dinamakan hyperemia atau kongesti,menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut. Timbulnya hyperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh tubuh baik secara neurogenik maupun secara kimia,melalui pengeluaran zat seperti histamin.
2. Kalor (panas)
Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya terjadi pada permukaan tubuh, yang dalam keadaan normal lebih dingin dari -37 °C yaitu suhu di dalam tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya sebab darah yang disalurkan tubuh kepermukaan daerah yang terkena lebih banyak daripada yang disalurkan kedaerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada daerah-daerah yang terkena radang jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti 37°C, hyperemia lokal tidak menimbulkan perubahan.
3. Dolor (rasa sakit)
Dolor atau rasa sakit, dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang sama, pengeluaran zat kimia bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang tanpa diragukan lagi dapat menimbulkan rasa sakit.
4. Tumor (pembengkaan)
Segi paling menyolok dari peradangan akut mungkin adalah pembengkaan lokal (tumor). Pembengkaan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat. Pada keadaan dini reaksi peradangan sebagian besar eksudat adalah cair, seperti yang terjadi pada lepuhan yang disebabkan oleh luka bakar ringan. Kemudian sel-sel darah putih atau leukosit meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian dari eksudat.
5. Fungsio laesa (perubahan fungsi)
Fungsio laesa atau perubahan fungsi adalah reaksi peradangan yang telah dikenal. Sepintas lalu, mudah dimengerti, mengapa bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dart lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, berfungsi secara abnormal. Namun sebetulnya kita tidak mengetahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan yang meradang itu terganggu.
Berbagai bentuk/Jenis Radang
Bentuk peradangan dapat timbul didasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ atau jaringan tertentu yang terlibat, dan lamanya proses peradangan. Tata nama proses peradangan memperhitungkan masing-masing variable ini. Berbagai eksudat diberi nama deskriptif. Lamanya respon peradangan disebut akut;disebut kronik jika ada bukti perbaikan yang sudah lanjut bersama dengan dumadhsi;dan disebut subakut jika ada bukti awal perbaikan bersama dengan eksudasi. Lokasi reaksi peradangan disebut dengan akhiran -it is yang ditambahkan pada nama organ (misalnya; apendisitis, tonsillitis).
Jenis Radang
Misalnya: radang kataral, radang pseudomembran, ulkus, abses, flegmon, radang purulen, suppurativaa dan lain-lain.
a) Radang Kataral
Terbentuk diatas permukaan membran mukosa,dimana terdapat sel-sel yang dapat mensekresi musin. Eksudat musin yang paling banyak dikenal adalah puck yang menyertai banyak infeksi pernafasan bagian atas.
b) Radang Pseudomembran
Istilah ini dipakai untuk reaksi radang pada permukaan selaput lendir yang ditandai dengan pembentukan eksudat berupa lapisan selaput superficial, mengandung agen penyebab, endapan fibrin, sel-sel nekrotik aktif dan sel-sel darah putih radang.Radang membranosa sering dijumpai dalam orofaring, trachea,bronkus, dan traktus gastrointestinal.
c) Ulkus.
Terjadi apabila sebagian permukaan jaringan hilang sedangkan jaringan sekitarnya meradang.
d) Abses
Abses adalah lubang yang terisi nanah dalam jaringan. Abses adalah lesi yang sulit untuk diatasi oleh tubuh karena kecenderungannya untuk meluas dengan pencairan, kecenderungannya untuk membentuk lubang dan resistensinya terhadap penyembuhan. Jika terbentuk abses, maka obat-obatan seperti antibiotik dalam darah sulit masuk ke dalam abses. Umumnya penanganan abses oleh tubuh sangat dibantu oleh pengosongannya secara pembedahan, sehingga memungkinkan ruang yang sebelumnya berisi nanah mengecil dan sembuh. Jika abses tidak dikosongkan secara pembedahan oleh ahli bedah, maka abses cenderung untuk meluas, merusak struktur lain yang dilalui oleh abses tersebut.
e) Flegmon
Flegmon: radang purulen yang meluas secara defuse pada jaringan.
f) Radang Purulent
Terjadi akibat infeksi bakteri.terdapat pada cedera aseptik dan dapat terjadi dimana-mana pada tubuh yang jaringannya telah menjadi nekrotik.
g) Radang supuratif
Gambaran ini adalah nekrosis liqeuvaktifa yang disertal emigrasi neutrofil dalam jumlah banyak.Infeksi supuratif local disebabkan oleh banyak macam bakteri yang secara kolektif diberi nama piogen (pembentukan nanah).Yang termasuk piogen adalah stafilokokkus,banyak basil gram negatif. Perbedaan penting antara radang supuratif dan radang purulen bahwa pada radang supuratif terjadi nekrosis liquefaktiva dari jaringan dasar. Nekrosis liquefaktiva adalah jaringan nekrotik yang sedikit demi sedikit mencair akibat enzim.
Aspek/Reaksi Sistemik Pada Peradangan
Reaksi sistemik yang menyertai reaksi local pada peradangan diantaranya adalah
1. Demam.
Yang merupakan akibat dari pelepasan zat pirogen endogen yang berasal dari neutrofil dan makrofag. Selanjutnya zat tersebut akan memacu pusat pengendali suhu tubuh yang ada dihypothalamus.
2. Perubahan hematologis.
Rangsangan yang berasal dari pusat peradangan mempengaruhi proses maturasi dan pengeluaran leukosit dari sumsum tulang yang mengakibatkan kenaikan suatu jenis leukosit, kenaikan ini disebut leukositosis. Perubahan protein darah tertentu juga terjadi bersamaan dengan perubahan apa yang dinamakan laju endap darah.
3. Gejala konstitusional.
Pada cedera yang hebat, terjadi perubahan metabolisme dan endokrin yang menyolok. Akhirnya reaksi peradangan local sering diiringi oleh berbagai gejala konstitusional yang berupa malaise, anoreksia atau tidak ada nafsu makan dan ketidakmampuan melakukan sesuatu yang beratnya berbeda-beda bahkan sampai tidak berdaya melakukan apapun.
Beda Radang Dengan Infeksi
Peradangan dan infeksi itu tidak sinonim.Pada infeksi ditandai adanya mikroorganisme dalam jaringan, sedang pada peradangan belum tentu, karena banyak peradangan yang tejadi steril sempurna.Jadi infeksi hanyalah merupakan sebagian dari peradangan.
Nasib Radang Dan Pemulihan Jaringan Pada Radang
Dengan adanya reaksi peradangan, maka hasil perbaikan yang paling menggembirakan yang dapat diperoleh adalah, jika terjadi hanya sedikit kerusakan atau tidak ada kerusakan jaringan di bawahnya sama sekali. Pada keadaan semacam itu jika agen penyerang sudah dinetralkan dan dihilangkan. Pembuluh darah kecil di daerah itu memperoleh kembali semipermeabilitasnya, aliran cairan berhenti dan emigrasi leukosit dengan cara yang sama juga berhenti. Cairan yang sebelumnya sudah dieksudasikan sedikit demi sedikit diserap oleh pembuluh limfe dan sel-sel eksudat mengalami disintegrasi dan keluar melalui pembuluh limfe atau benar-benar dihilangkan dari tubuh. Hasil akhir dari proses ini adalah penyembuhan jaringan yang meradang jaringan tersebut pulih seperti sebelum reaksi. Gejala ini disebut resolusi.
Sebaliknya, bila jumlah jaringan yang rusak cukup bermakna jaringan yang rusak harus diperbaiki oleh proliferasi sel-sel hospes berdekatan yang masih hidup. Perbaikan sebenarnya melibatkan dua komponen yang terpisah tetapi terkoordinir. Pertama disebut regenerasi Hasil akhirnya adalah penggantian unsureunsur yang telah hilang dengan jenis sel yang sama. Komponen perbaikan kedua melibatkan proliferasi unsur-unsur jaringan penyambung yang mengakibatkan pembentukan jaringan parut.
Penyembuhan luka.
Koordinasi pembentukan parut dan regenerasi barangkali paling mudah dilukiskan pada kasus penyembuhan luka kulit. Jenis penyembuhan yang paling sederhana terlihat pada penanganan luka oleh tubuh seperti pada insisi pembedahan, dimana pinggir luka dapat didekatkan agar proses penyembuhan dapat terjadi. Penyembuhan semacam ini disebut penyembuhan primer atau healing by first intention. Setelah teijadi luka maka tepi luka dihubungkan oleh sedikit bekuan darah yang fibrinnya bekerja seperti lem. Segera setelah itu terjadilah reaksi peradangan akut pada tepi luka itu dan sel-sel radang, khususnya makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai menghancurkanya. Dekat reaksi peradangan eksudat ini, terjadi pertumbuhan ke dalam oleh jaringan granulasi ke dalam daerah yang tadinya ditempati oleh bekuan darah. Dengan demikian maka dalam jangka waktu beberapa hari luka itu dijembatani oleh jaringan granulasi yang disiapkan agar matang menjadi jaringan parut. Sementara proses ini berjalan maka epitel permukaan di bagian tepi mulai melakukan regenerasi dan dalam waktu beberapa hari bermigrasi lapisan tipis epitel diatas permukaa luka.Waktu jaringan parut di bawahnya menjadi matang, epitel ini juga menebal dan matang sehingga menyerupai kulit yang didekatnya. Hasil akhirnya adalah terbentuknya kembali permukaan kulit dan dasar jaringan parut yang tidak nyata atau hanya terlihat sebagai satu garis yang menebal. Pada luka lainnya diperlukan jahitan untuk mendekatkan kedua tepi luka sampai terjadi penyembuhan.
Bentuk penyembuhan kedua terjadi jika luka kulit sedemikian rupa sehingga tepi luka tidak dapat saling didekatkan selama proses penyembuhan. Keadaan ini disebut healing by second intention atau kadang kala disebut penyembuhan yang disertai granulasi
Penyembuhan Abses
Penyembuhan akan berlangsung lebih cepat bila isi abses dapat keluar. Abses kecil akan diorganisasi dan menjadi jaringan ikat. Abses besar hanya sekitarnya akan diorganisasi dan menjadi jaringan ikat.
Patogenesis
adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan penyakit. Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan berasosiasi dengan jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit. Kapasitas bakteri menyebabkan penyakit tergantung pada patogenitasnya. Dengan kriteria ini, bakteri dikelompokan menjadi 3, yaitu agen penyebab penyakit, patogen oportunistik, nonpatogen. Agen penyebab penyakit adalah bakteri patogen yang menyebabkan suatu penyakit (Salmonella spp.). Patogen oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan sebagai patogen ketika mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli menginfeksi saluran urin ketika sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah). Nonpatogen adalah bakteri yang tidak pernah menjadi patogen. Namun bakteri nonpatogen dapat menjadi patogen karena kemampuan adaptasi terhadap efek mematikan terapi modern seperti kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi. Bakteri tanah Serratia marcescens yang semula nonpatogen, berubah menjadi patogen yang menyebabkan pneumonia, infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang terkompromi.
Virulensi adalah ukuran patogenitas organisme. Tingkat virulensi berbanding lurus dengan kemampuan organisme menyebabkan penyakit. Tingkat virulensi dipengaruhi oleh jumlah bakteri, jalur masuk ke tubuh inang, mekanisme pertahanan inang, dan faktor virulensi bakteri. Secara eksperimental virulensi diukur dengan menentukan jumlah bakteri yang menyebabkan kematian, sakit, atau lesi dalam waktu yang ditentukan setelah introduksi.
KERENTANAN INANG
Kerentanan terhadap infeksi bakteri tergantung pada kondisi fisiologis dan imunologis inang dan virulensi bakteri. Pertahanan inang terhadap infeksi bakteri adalah mekanisme nonspesifik dan spesifik (antibodi). Mekanisme nonspesifik dilakukan oleh sel-sel neutrofil dan makrofag. Perkembangan imunitas spesifik seperti respons antibodi memerlukan waktu beberapa minggu. bakteri flora normal kulit dan permukaan mukosa juga memberi perlindungan terhadap kolonisasi bakteri patogen. Pada individu sehat, bakteri flora normal yang menembus ke tubuh dapat dimusnahkan oleh mekanisme humoral dan seluler inang. Contoh terbaik tentang kerentanan adalah AIDS, di mana limfosit helper CD4+ secara progresif berkurang 1/10 oleh virus imunodefisiensi (HIV). Mekanisme resistensi dipengaruhi oleh umur, defisiensi, dan genetik. Sistem pertahanan (baik spesifik maupun nonspesifik) orang lanjut usia berkurang. Sistem imun bayi belum berkembang, sehingga rentan terhadap infeksi bakteri patogen. Beberapa individu memiliki kelainan genetik dalam sistem pertahanan.
Resistensi inang dapat terkompromi oleh trauma dan penyakit lain yang diderita. Individu menjadi rentan terhadap infeksi oleh berbagai bakteri jika kulit atau mukosa melonggar atau rusak (terluka). Abnormalitas fungsi silia sel pernafasan mempermudah infeksi Pseudomonas aeruginosa galur mukoid. Prosedur medis seperti kateterisasi dan intubasi trakeal menyebabkan bakteri normal flora dapat masuk ke dalam tubuh melalui plastik. Oleh karena itu, prosedur pengantian plastik kateter rutin dilakukan setiap beberapa jam (72 jam untuk kateter intravena).
Banyak obat diproduksi dan dikembangkan untuk mengatasi infeksi bakteri. Agen antimikroba efektif melawan infeksi bakteri jika sistem imun dan fagosit inang turut bekerja. Namun terdapat efek samping penggunaan antibiotik, yaitu kemampuan difusi antibiotik ke organ nonsasaran (dapat mengganggu fungsi organ tersebut), kemampuan bertahan bakteri terhadap dosis rendah (meningkatkan resistensi), dan kapasitas beberapa organisme resisten terhadap multi-antibiotik.
Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2074655-patogenesis/#ixzz1OUgie6re
jamur
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya tumbuh pada waktu tertentu, pada kondisi tertentu yang mendukung, dan lama hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. namun, jamur ini segera mati setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan, misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian jamur?
b. Bagaimana struktur tubuh jamur?
c. Bagaimana cara makan dan habitat jamur?
d. Bagaimana pertumbuhan dan reproduksi jamur?
e. Bagaimana peranan jamur?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian jamur.
b. Untuk mengetahui struktur tubuh jamur.
c. Untuk mengetahui cara makan dan habitat jamur.
d. Untuk mengetahui pertumbuhan dan reproduksi jamur.
e. Untuk mengetahui peranan jamur.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jamur
Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan "jamur belah" (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Pengertian terakhir ini berkaitan dengan nilai ekonomi jamur sebagai bahan pangan, sumber racun, atau bahan pengobatan.
2.2 Struktur Tubuh Jamur
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.
Gbr. Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.
Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma.
Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
2.3 Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
Parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya,
sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang
sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang
cocok.
Saprofit merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang
mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah
mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur
saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk
mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga
mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung
menyerap bahanbahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.
Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
2.4 Pertumbuhan dan Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
2.5 Peranan Jamur
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
a. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
b. Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
c. Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.
d. Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a. Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.
b. Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
c. Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e. Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
f. Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
3.2 Saran
Disarankan kepada pembaca agar mengetahui peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya tumbuh pada waktu tertentu, pada kondisi tertentu yang mendukung, dan lama hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. namun, jamur ini segera mati setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan, misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian jamur?
b. Bagaimana struktur tubuh jamur?
c. Bagaimana cara makan dan habitat jamur?
d. Bagaimana pertumbuhan dan reproduksi jamur?
e. Bagaimana peranan jamur?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian jamur.
b. Untuk mengetahui struktur tubuh jamur.
c. Untuk mengetahui cara makan dan habitat jamur.
d. Untuk mengetahui pertumbuhan dan reproduksi jamur.
e. Untuk mengetahui peranan jamur.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jamur
Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan "jamur belah" (Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir, adalah tubuh buah yang lunak atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya. Pengertian terakhir ini berkaitan dengan nilai ekonomi jamur sebagai bahan pangan, sumber racun, atau bahan pengobatan.
2.2 Struktur Tubuh Jamur
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.
Gbr. Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik.
Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma.
Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
2.3 Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
Parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya,
sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang
sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang
cocok.
Saprofit merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang
mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah
mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur
saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk
mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga
mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung
menyerap bahanbahan organik dalam bentuk sederhana yang
dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.
Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
2.4 Pertumbuhan dan Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
2.5 Peranan Jamur
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut.
a. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan
berprotein tinggi.
b. Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
c. Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.
d. Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a. Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.
b. Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
c. Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e. Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
f. Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
3.2 Saran
Disarankan kepada pembaca agar mengetahui peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur
Langganan:
Komentar (Atom)





