BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermediet untuk perkembangannya.
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sebagai berikut:
a. Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
b. Trematoda paru: Paragonimus westermani
c. Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
d. Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
E. revolutum merupakan parasit cacing trematoda yang sering dilaporkan menginfeksi orang di Taiwan dan Indonesia.
E. malayanum ditemukan menginfeksi orang di India, Asia Tenggara dan India Barat.
Makalah ini disusun untuk menarik minat pembaca untuk lebih memahami bagaimana bentuk, cara penyebaran, gejala yang ditimbulkan hingga penanganan pada penyakit yang disebabkan oleh E. ilocanum, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui cacing yang ia temui saja.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut beberapa rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut :
1. Bagaimana morfologi E. ilocanum?
2. Bagaimana daur hidup E. ilocanum?
3. Bagaimana gejala klinis/patologi E. ilocanum?
4. Bagaimana diagnosis E. ilocanum ?
5. Bagaimana pengobatan E. ilocanum ?
6. Bagaimana pencegahan E. ilocanum ?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat diambil tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui morfologi E. ilocanum.
2. Untuk memahami daur hidup E. ilocanum.
3. Untuk mengetahui gejala klinis/patologi E. ilocanum.
4. Untuk mengetahui diagnosis E. ilocanum.
5. Untuk mengetahui pengobatan E. ilocanum.
6. Untuk memahami pencegahan E. ilocanum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi E. ilocanum
• Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah.
• Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala.
• Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm.
• Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing.
• Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
• Cacing dewasa hidup dalam usus halus, mempunyai warna agak merah ke abu-abuan.
• Telur mempunyai operkulum, besarnya berkisar antara 103-137 x 59-75 mikron.
2.2 Daur Hidup E. ilocanum
Cacing trematoda yang termasuk famili Echinostomatidae ini terciri dengan adanya duri leher yang melingkar dalam sebaris atau dua baris yang melingkari batl isap kepala. Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
2.3 Gejala Klinis/Patologi E. ilocanum
Biasanya cacing Echinostoma Ilocanum menyebabkan kerusakan ringan pada mukosa usus dan tidak menimbulkan gejala yang berarti. Infeksi berat menyebabkan timbulnya radang kataral pada dinding usus, atau ulserasi. Pada anak menimbulkan gejala diare, sakit perut, anemia dan edema.
2.4 Diagnosis E. ilocanum
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja.
2.5 Pengobatan E. ilocanum
Tetrakloroetolen adalah obat yang dianjurkan, akan tetapi penggunaan obat-obat baru yang lebih aman, seperti prazikuantel dapat dipertimbangkan.
2.6 Pencegahan E. ilocanum
Keong sawah yang digunakan untuk konsumsi sebaiknya dimasak sampai matang, sebab bila tidak, metaserkaria dapat hidup dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Telur cacing E. ilocanum pertama ditemukan dalam feses dari seorang hukuman di Manila tahun 1907. Kemudian cacing ini banyak ditemukan menginfeksi orang di daerah India Barat dan China. Morfologi dan biologinya sangat mirip dengan cacing E. revolutum.
Cici-ciri khas berupa duri-duri leher dengan jumlah antara 37 buah sampai kira-kira 51 buah. Letaknya dalam dua baris berupa tapal kuda, melingkari bagian belakang serta samping batil isap kepala. Cacing tersebut berbentuk lonjong, berukuran panjang dari 2,5 mm hingga 13-15 mm Dan lebar 0,4-0,7 mm hingga 2,5-3,5 mm. Testis berbentuk agak bulat, berlekuk-lekuk, letaknya bersusun tandem pada bagian posterior cacing. Vitelaria letaknya sebelah lateral, meliputi 2/3 bdan cacing dan melanjut hingga bagian posterior.
Cacing dewasa hidup dalam usus halus, telur keluar melalui feses dan kemudian menetas dalam waktu 3 minggu dan kemudian keluar meracidium yang berenang dalam air mencari hospes intermedier ke 1 berupa siput genus Physa, Lymnea, Heliosoma, Paludina dan segmentia. Dalam hospes intermedier tersebut meracidium membentuk sporocyst dan kemudian terbentuk redia induk, redia anak yang kemudian membentuk cercaria. Cercaria keluar dari siput berenang mencari hospes intermedier ke 2 yaitu jenis moluska (siput besar), planaria, ikan atau katak. Bila hospes intermedier dimakan orang maka orang akan terinfeksi.
3.2 Saran
Disarankan kepada pembaca agar selalu menjaga kebersihan diri, dimana kebersihan tersebut tidak hanya tertuju pada fisik kita tetapi juga pada barang atau bahan yang akan kita konsumsi ataupun yang akan bersentuhan dengan tubuh kita. Dan perlu kita ingat pula bahwa apa yang kita anggap bersih itu juga demikian adanya karena lebih baik kita mencegah penyakit ketika penyakit itu belum datang daripada kita mengobati penyakit yang telah pasti menyerang tubuh kita.
DAFTAR PUSTAKA
Crocodilusdarattensis. 2010. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://crocodilusdaratensis.wordpress.com)
Wikipedia. 2009. “Echinostoma Ilocanum ” (diakses tanggal 24 Mei 2011, http://id.wikipedia.org)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar